Sebagian orang pernah berkata bahwa tidak perlu bekerja terlalu keras karena rezeki sudah diatur oleh Allah. Kalimat ini sekilas terdengar benar dan religius, namun jika dipahami secara keliru justru dapat menumbuhkan sikap malas dan pasrah tanpa usaha.
💡 Catatan Penting
Islam memang mengajarkan tawakal, tetapi Islam juga sangat menekankan pentingnya ikhtiar atau usaha yang sungguh-sungguh.
Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memahami bagaimana sebenarnya konsep rezeki dalam Islam agar tidak salah dalam bersikap.
Makna Rezeki dalam Islam
Dalam Islam, rezeki tidak hanya terbatas pada harta atau penghasilan. Rezeki juga mencakup kesehatan yang baik, keluarga yang harmonis, ilmu yang bermanfaat, waktu yang lapang, serta kesempatan untuk melakukan kebaikan.
Rezeki Itu Luas Orang yang hidup sederhana belum tentu kekurangan rezeki, karena bisa jadi Allah melimpahkan rezeki kepadanya dalam bentuk lain yang lebih bernilai dan menenangkan hati.
Allah telah menegaskan bahwa seluruh makhluk telah dijamin rezekinya oleh-Nya. Hal ini menunjukkan bahwa manusia tidak perlu takut kekurangan rezeki, tetapi tetap harus memahami cara menjemput rezeki tersebut dengan benar.
Apakah Rezeki Sudah Ditentukan Sejak Awal?
Pembahasan tentang rezeki sudah diatur lalu kenapa harus bekerja keras tidak bisa dilepaskan dari pemahaman tentang takdir dan ketentuan Allah.
Rasulullah menjelaskan bahwa rezeki telah ditetapkan sejak manusia berada dalam kandungan:
Dalil Hadits
“Sesungguhnya salah seorang di antara kalian dikumpulkan penciptaannya dalam perut ibunya selama empat puluh hari… lalu ditetapkan baginya rezekinya, ajalnya, amalnya, dan celaka atau bahagianya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Namun, ketentuan ini tidak berarti manusia boleh berdiam diri tanpa usaha. Allah tidak hanya menetapkan hasil akhir, tetapi juga menetapkan proses dan jalan yang harus ditempuh oleh manusia.
Sebagaimana rasa kenyang tidak akan datang tanpa makan dan kepandaian tidak akan diraih tanpa belajar, maka rezeki pun tidak akan diperoleh tanpa usaha yang dilakukan secara nyata. Dengan demikian, bekerja dan berusaha merupakan bagian dari ketetapan Allah itu sendiri.
Mengapa Manusia Tetap Harus Bekerja Keras?
Jika rezeki sudah diatur oleh Allah, lalu kenapa harus bekerja keras? Pertanyaan ini justru membuka pemahaman bahwa usaha adalah bagian dari ketetapan Allah itu sendiri. Manusia tetap diwajibkan bekerja keras karena bekerja merupakan perintah Allah dan sunnah para nabi. Allah memerintahkan manusia untuk bergerak dan mencari karunia-Nya di muka bumi.
Rasulullah ﷺ bekerja dan berdagang meskipun beliau adalah manusia yang paling bertawakal kepada Allah.
Hal ini menunjukkan bahwa tawakal tidak pernah berarti meninggalkan usaha. Justru, tawakal yang benar lahir setelah seseorang melakukan ikhtiar secara maksimal.
Hubungan Antara Usaha dan Rezeki
Usaha bukanlah penentu rezeki, melainkan jalan yang Allah tetapkan untuk datangnya rezeki. Hasil akhir tetap berada di tangan Allah, sementara manusia hanya bertugas menjalani prosesnya dengan penuh tanggung jawab. Tugas manusia adalah berusaha dengan jujur dan sungguh-sungguh, sedangkan hasilnya adalah hak Allah sepenuhnya.
Ketika seseorang bekerja dengan jujur dan sungguh-sungguh, maka ia telah menjalankan perannya sebagai hamba yang taat. Adapun hasil yang diperoleh, baik besar maupun kecil, merupakan ketentuan Allah yang harus diterima dengan lapang dada.
Kesalahan dalam Memahami Tawakal
Sebagian orang memahami tawakal secara keliru dengan menganggap bahwa pasrah berarti tidak perlu berusaha. Padahal, sikap tersebut bukanlah tawakal yang diajarkan Islam.
Bukan Tawakal Jika: Berhenti berusaha lalu menyalahkan takdir.
Tawakal yang benar adalah kondisi hati yang tenang karena telah berusaha semaksimal mungkin dan menyerahkan hasilnya sepenuhnya kepada Allah. Seseorang yang bertawakal tetap bekerja, tetap berdoa, dan tetap berikhtiar, namun tidak menggantungkan hatinya pada hasil semata.
Contoh Penerapan Ikhtiar dan Tawakal dalam Kehidupan
Seorang pedagang yang bertawakal akan tetap membuka usahanya setiap hari, melayani pembeli dengan jujur, serta menghindari kecurangan. Seorang karyawan yang bertawakal akan bekerja secara profesional, datang tepat waktu, dan menyelesaikan tugas dengan baik.
Setelah melakukan semua usaha tersebut, mereka menyerahkan hasilnya kepada Allah, baik berupa keuntungan, gaji, maupun pengalaman hidup yang bermanfaat. Dalam setiap aktivitas, doa dan ibadah tetap dijaga agar hati tidak bergantung pada usaha semata.
Mengapa Rezeki Setiap Orang Berbeda?
Perbedaan rezeki merupakan bagian dari ujian hidup. Ada orang yang diuji dengan kelapangan harta, dan ada pula yang diuji dengan keterbatasan. Keduanya sama-sama ujian yang menuntut sikap sabar dan syukur.
Allah Maha Mengetahui apa yang paling dibutuhkan oleh hamba-Nya, meskipun terkadang manusia tidak memahaminya.
Cara Menjemput Rezeki agar Lebih Berkah
Rezeki yang berkah tidak hanya diukur dari jumlahnya, tetapi dari ketenangan dan manfaat yang ditimbulkannya.
Langkah Sederhana yang Bisa Dilakukan
Menjaga shalat tepat waktu, memperbanyak istighfar, bersedekah secara rutin meskipun sedikit, serta menjaga kejujuran dalam setiap pekerjaan.
Dengan cara inilah rezeki yang diperoleh akan membawa kebaikan, baik di dunia maupun di akhirat.
Rezeki memang sudah diatur oleh Allah, tetapi bekerja keras adalah bagian dari ketetapan tersebut. Islam mengajarkan keseimbangan antara usaha, doa, dan tawakal.
Inti Pembelajaran
Berusahalah sekuat tenaga, berdoalah dengan sungguh-sungguh, lalu bertawakallah dengan tenang.
Seorang muslim tidak boleh menjadikan takdir sebagai alasan untuk bermalas-malasan, melainkan harus menjadikannya sebagai sumber ketenangan setelah berusaha. Dengan bekerja secara halal, berdoa dengan sungguh-sungguh, dan bertawakal, insyaAllah rezeki yang datang akan membawa keberkahan dan ketenteraman dalam hidup.




