Mengapa Tahun Baru Islam Dimulai dari Muharram, Bukan Ramadhan?

Mengapa Tahun Baru Islam Dimulai dari Muharram, Bukan Ramadhan?

Ketika mendengar istilah Tahun Baru Islam, kita langsung teringat pada bulan Muharram. Padahal jika berbicara tentang bulan yang paling dikenal umat Islam, mungkin banyak orang akan menjawab Ramadhan.

Ramadhan adalah bulan puasa, bulan diturunkannya Al-Qur’an, dan bulan yang penuh keberkahan. Karena itu, tidak sedikit yang bertanya-tanya, “Mengapa Tahun Baru Islam justru dimulai dari Muharram, bukan Ramadan?”

Pertanyaan ini ternyata memiliki jawaban yang menarik. Di balik penetapan Muharram sebagai awal tahun Hijriah, terdapat sejarah panjang yang berkaitan dengan perjalanan umat Islam dan para sahabat Rasulullah.

Awalnya, Umat Islam Belum Memiliki Kalender Resmi

Pada masa Rasulullah, umat Islam sebenarnya belum menggunakan sistem penanggalan seperti yang kita kenal saat ini. Ketika menulis surat, membuat perjanjian, atau mencatat suatu peristiwa, biasanya hanya disebutkan nama bulan dan tahun secara umum tanpa penomoran tahun yang jelas.

Seiring berkembangnya wilayah Islam pada masa Khalifah Umar bin Khattab RA, kebutuhan akan sistem penanggalan yang lebih teratur mulai dirasakan. Banyak surat dan dokumen penting yang membutuhkan penanda waktu yang pasti agar tidak menimbulkan kebingungan. Dari sinilah muncul gagasan untuk membuat kalender resmi bagi umat Islam.

Mengapa Disebut Kalender Hijriah?

Ketika para sahabat bermusyawarah untuk menentukan titik awal penanggalan Islam, muncul beberapa usulan. Ada yang mengusulkan tahun kelahiran Rasulullah sebagai awal kalender, ada pula yang mengusulkan tahun diangkatnya beliau menjadi nabi. Sebagian sahabat bahkan mengusulkan tahun wafatnya Rasulullah.

Namun setelah berdiskusi, para sahabat sepakat memilih peristiwa hijrah Rasulullah dari Makkah ke Madinah sebagai awal perhitungan tahun Islam. Karena hijrah menjadi titik balik yang sangat penting dalam sejarah Islam. Setelah hijrah, umat Islam tidak lagi hanya menjadi kelompok kecil yang tertindas, tetapi mulai membangun masyarakat, pemerintahan, dan peradaban yang kuat.

Peristiwa hijrah bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan awal dari perubahan besar bagi umat Islam. Karena itulah kalender Islam kemudian dikenal dengan nama kalender Hijriah.

Baca juga : Tahukah Kamu? Satu Puasa Ini Bisa Menghapus Dosa Setahun yang Lalu

Jika Awalnya Hijrah, Mengapa Bulan Pertamanya Muharram?

Hijrah Rasulullah  sebenarnya tidak terjadi pada bulan Muharram. Secara sejarah, perjalanan hijrah dimulai sekitar bulan Safar dan Rasulullah tiba di Madinah di bulan Rabiul Awal.

Lalu mengapa kalender Hijriah tetap dimulai dari Muharram?

Ksrna Muharram adalah bulan yang datang setelah Dzulhijjah, yaitu bulan ketika umat Islam menyelesaikan ibadah haji. Setelah musim haji berakhir, banyak orang mulai mempersiapkan perjalanan dan aktivitas baru. Karena itu, Muharram dianggap sebagai waktu yang tepat untuk memulai lembaran baru dalam kehidupan.

Selain itu, tekad untuk berhijrah yang menjadi dasar kalender Hijriah juga mulai muncul setelah peristiwa Baiat Aqabah yang terjadi menjelang Muharram. Dengan kata lain, meskipun hijrahnya berlangsung beberapa bulan setelahnya, semangat dan persiapan menuju hijrah telah dimulai sejak Muharram. Karena alasan itulah para sahabat memilih Muharram sebagai bulan pertama dalam kalender Islam.

Muharram Juga Merupakan Bulan yang Dimuliakan Allah

Pemilihan Muharram bukan hanya karena pertimbangan sejarah. Muharram juga termasuk salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan Allah SWT.

Allah berfirman: “Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan… di antaranya ada empat bulan haram.” (QS. At-Taubah: 36)

Empat bulan tersebut adalah Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Pada bulan-bulan ini, umat Islam dianjurkan untuk lebih menjaga diri dari perbuatan dosa dan memperbanyak amal saleh. Keistimewaan Muharram semakin terlihat ketika Rasulullah menyebutnya sebagai Syahrullah atau Bulan Allah.

Baca juga : Mengapa Muharram Disebut Bulan Allah? Ini Penjelasannya

Tahun Baru Islam dimulai dari Muharram bukan karena peristiwa hijrah terjadi pada bulan tersebut, melainkan karena keputusan para sahabat yang melihat Muharram sebagai awal yang tepat untuk memulai perjalanan baru umat Islam.

Mengapa Muharram Disebut Bulan Allah? Ini Penjelasannya

Mengapa Muharram Disebut Bulan Allah? Ini Penjelasannya

Saat mendengar nama Muharram, sebagian besar umat Islam mungkin langsung teringat dengan Tahun Baru Islam atau puasa Asyura. Namun, tahukah Sobat YKB bahwa Muharram memiliki sebuah keistimewaan yang tidak dimiliki oleh bulan lainnya?

Saat mendengar nama Muharram, sebagian besar umat Islam mungkin langsung teringat dengan Tahun Baru Islam atau puasa Asyura. Namun Pernahkah Sobat YKB bertanya atau mungkin belum tahu kalau ada satu bulan dalam kalender Hijriah yang disebut sebagai “Bulan Allah”?

Di balik penyebutan tersebut ternyata tersimpan makna yang sangat dalam. Bahkan banyak umat Islam yang belum mengetahui bahwa Muharram bukan sekadar awal tahun baru Islam, melainkan salah satu bulan yang memiliki kedudukan sangat istimewa di sisi Allah SWT.

Sebuah Kisah di Balik Nama “Bulan Allah”

Ketika para sahabat mendengar Rasulullah berbicara tentang bulan Muharram, beliau bersabda: “Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu Muharram. (HR. Muslim)

Menariknya, Rasulullah tidak hanya menyebut bulan Muharram, tetapi menyebutnya dengan istilah “Syahrullah Al-Muharram” atau Bulan Allah, yaitu Muharram.

Para ulama menjelaskan bahwa penyandaran sesuatu kepada Allah menunjukkan kemuliaan dan keistimewaan yang besar. Sebagaimana Ka’bah disebut sebagai Baitullah (Rumah Allah), atau unta Nabi Shalih disebut Naqatullah atau Unta Allah, maka penyebutan Muharram sebagai Bulan Allah merupakan bentuk pemuliaan yang menunjukkan kedudukannya yang istimewa.

Karena itulah banyak ulama mengatakan bahwa Muharram adalah salah satu bulan yang sangat layak untuk diisi dengan amal saleh dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Muharram Sudah Dimuliakan Jauh Sebelum Islam Datang

Hal yang mungkin belum banyak diketahui adalah bahwa kemuliaan Muharram ternyata sudah ada jauh sebelum masa Rasulullah. Dalam tradisi para nabi terdahulu, terdapat empat bulan yang dihormati dan dimuliakan. Allah SWT kemudian menegaskan hal tersebut dalam Al-Qur’an:

إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوۡمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ مِنۡهَآ أَرۡبَعَةٌ حُرُمٌۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلۡقَيِّمُۚ فَلَا تَظۡلِمُواْ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمۡۚ

“Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan… di antaranya ada empat bulan haram.” (QS. At-Taubah: 36)

Empat bulan tersebut adalah: Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, Rajab. Pada masa lampau, peperangan bahkan dihentikan ketika memasuki bulan-bulan haram sebagai bentuk penghormatan terhadap waktu yang dimuliakan Allah. Hal ini menunjukkan bahwa Muharram bukan bulan biasa. Ia memiliki sejarah panjang sebagai bulan yang dihormati sejak zaman para nabi.

Mengapa Muharram Menjadi Awal Tahun Islam?

Banyak orang mengira kalender Islam dimulai dari kelahiran Rasulullah atau turunnya wahyu pertama. Namun ternyata tidak. Pada masa Khalifah Umar bin Khattab, para sahabat bermusyawarah untuk menentukan titik awal kalender Islam. Setelah berdiskusi, mereka sepakat menjadikan peristiwa hijrah Rasulullah dari Makkah ke Madinah sebagai awal perhitungan tahun Hijriah.

Mengapa hijrah?

Karena hijrah bukan sekadar perpindahan tempat. Hijrah merupakan titik awal perubahan besar dalam sejarah Islam. Dari peristiwa hijrah lahir masyarakat Islam yang kuat, bersatu, dan mampu membawa rahmat bagi banyak orang. Karena itu tahun Hijriah mengajarkan bahwa perubahan menuju kebaikan selalu membutuhkan keberanian, pengorbanan, dan kesabaran.

Apa yang Membuat Muharram Begitu Istimewa?

1. Bulan Pembuka Tahun Hijriah

Muharram menjadi awal lembaran baru bagi umat Islam. Jika banyak orang membuat resolusi di awal tahun Masehi, maka Muharram menjadi momentum yang tepat untuk memperbaiki hubungan dengan Allah SWT.

2. Puasa Sunnah Terbaik Setelah Ramadhan

Rasulullah memberikan keistimewaan khusus kepada puasa di bulan Muharram. Bahkan beliau menyebutnya sebagai puasa sunnah terbaik setelah puasa Ramadhan. Ini menunjukkan betapa besar peluang pahala yang Allah sediakan pada bulan ini.

3. Bulan untuk Memperbanyak Amal Saleh

Para ulama menjelaskan bahwa amal kebaikan yang dilakukan pada bulan-bulan haram memiliki keutamaan tersendiri. Karena itu Muharram menjadi waktu yang sangat baik untuk:

  • Bersedekah
  • Membaca Al-Qur’an
  • Memperbanyak dzikir
  • Menjaga silaturahmi
  • Membantu sesama
  • Menyantuni anak yatim

Mari jadikan Muharram sebagai momentum untuk memperbanyak ibadah, memperbaiki diri, dan menebarkan manfaat kepada sesama. Semoga tahun Hijriah yang baru membawa keberkahan, ketenangan, dan semangat baru dalam menjalani kehidupan.

Untuk Sobat YKB yang ingin mendapatkan lebih banyak artikel edukasi Islami dan inspirasi kebaikan lainnya, kunjungi website kami ykb.or.id dan ikuti media sosial YKB di InstagramFacebook, dan YouTube.

Home

Laporan

Donasi

Blog

Chat