Tahukah Kamu? Satu Puasa Ini Bisa Menghapus Dosa Setahun yang Lalu

Tahukah Kamu? Satu Puasa Ini Bisa Menghapus Dosa Setahun yang Lalu

Bayangkan jika ada satu amalan sederhana yang hanya dilakukan dalam satu hari, namun Allah SWT memberikan pahala dan keutamaan yang begitu besar hingga dapat menjadi sebab dihapuskannya dosa-dosa kecil selama satu tahun yang telah berlalu.

Mungkin sebagian orang akan berpikir bahwa amalan tersebut pasti sangat berat untuk dilakukan. Namun ternyata, amalan itu adalah sebuah puasa sunnah yang hanya dilakukan satu hari di bulan Muharram, yaitu Puasa Asyura.

Apa itu puasa asyura

Setiap kali bulan Muharram tiba, umat Islam di berbagai penjuru dunia melaksanakan puasa ini. Sayangnya, masih banyak yang belum mengetahui kisah di balik Puasa Asyura, mengapa Rasulullah begitu menganjurkannya, dan bagaimana tata cara pelaksanaannya. Padahal, di balik puasa ini terdapat pelajaran tentang syukur, kesabaran, perjuangan, dan kasih sayang Allah kepada hamba-Nya.

Sebuah Kisah Besar yang Menjadi Awal Puasa Asyura

Untuk memahami keutamaan Puasa Asyura, kita perlu melihat sebuah peristiwa besar yang terjadi ribuan tahun lalu.

Saat itu, Nabi Musa AS bersama kaumnya berada dalam keadaan yang sangat sulit. Mereka dikejar oleh Fir’aun dan pasukannya yang terkenal zalim dan kejam. Di depan mereka terbentang lautan yang luas, sementara di belakang pasukan Fir’aun terus mendekat. Dalam kondisi yang tampak mustahil untuk selamat, Nabi Musa AS tetap yakin kepada pertolongan Allah SWT.

Allah kemudian memerintahkan Nabi Musa AS untuk memukulkan tongkatnya ke laut. Atas izin Allah, laut pun terbelah menjadi jalan yang dapat dilalui oleh Nabi Musa dan kaumnya. Mereka berhasil selamat, sementara Fir’aun dan pasukannya tenggelam ketika mencoba mengejar.

Peristiwa besar ini menjadi simbol kemenangan kebenaran atas kebatilan dan pertolongan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman. Sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat tersebut, Nabi Musa AS berpuasa pada hari itu.

Mengapa Rasulullah Berpuasa Asyura?

Ketika Rasulullah hijrah ke Madinah, beliau melihat kaum Yahudi berpuasa pada tanggal 10 Muharram. Beliau kemudian bertanya tentang alasan mereka berpuasa pada hari tersebut.

Mereka menjelaskan bahwa tanggal 10 Muharram adalah hari ketika Allah SWT menyelamatkan Nabi Musa AS dan Bani Israil dari kejaran Fir’aun. Sebagai bentuk rasa syukur atas pertolongan Allah, Nabi Musa AS berpuasa pada hari itu. Mendengar penjelasan tersebut, Rasulullah bersabda: “Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian.”(HR. Bukhari dan Muslim)

Maksudnya, umat Islam juga beriman kepada Nabi Musa AS dan meyakini bahwa beliau adalah salah satu nabi yang diutus oleh Allah SWT. Karena itu, Rasulullah kemudian berpuasa pada hari Asyura dan menganjurkan para sahabat untuk ikut melaksanakannya.

Dari kisah ini, kita bisa melihat bahwa Puasa Asyura bukan cuma tradisi tahunan. Puasa ini menjadi bentuk rasa syukur kepada Allah atas pertolongan-Nya kepada para nabi dan hamba-hamba yang beriman. Selain itu, Puasa ini juga mengajarkan bahwa ketika menghadapi kesulitan, seorang muslim harus yakin kepada Allah sebagaimana keyakinan Nabi Musa AS saat berada di hadapan laut dan dikejar oleh Fir’aun. Ketika manusia merasa tidak ada jalan keluar, Allah mampu memberikan pertolongan dengan cara yang tidak pernah disangka-sangka. Karena itulah Rasulullah menghidupkan puasa ini dan menjadikannya sebagai salah satu amalan istimewa di bulan Muharram yang penuh keberkahan.

Keutamaan Puasa Asyura yang Luar Biasa

Keutamaan Puasa Asyura

Inilah alasan mengapa banyak ulama menyebut Puasa Asyura sebagai salah satu puasa sunnah yang paling istimewa. Rasulullah bersabda: “Puasa Asyura, aku berharap kepada Allah agar menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim)

Hadis ini menunjukkan betapa luasnya rahmat Allah SWT. Melalui satu hari puasa, Allah memberikan kesempatan kepada hamba-Nya untuk mendapatkan pengampunan atas dosa-dosa kecil yang telah dilakukan selama satu tahun sebelumnya. Tentu ini menjadi kesempatan yang sayang untuk dilewatkan.

Baca juga : Mengapa muharram disebut bulan allah?

Mengapa Puasa Asyura Dilaksanakan di Bulan Muharram?

Karna muharram bukanlah bulan biasa. Muharram merupakan salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan Allah SWT. Bahkan Rasulullah menyebutnya sebagai: “Syahrullah Al-Muharram” yang berarti: “Bulan Allah, yaitu Muharram.” Karena kemuliaannya, berbagai amal saleh yang dilakukan di bulan ini memiliki nilai yang sangat istimewa, termasuk puasa sunnah.

Rasulullah juga bersabda: “Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu Muharram.”(HR. Muslim)

Tata Cara Puasa Asyura

1. Niat Puasa

Dapat dilakukan pada malam hari sebelum berpuasa atau sebelum tergelincir matahari selama belum melakukan hal yang membatalkan puasa. Niat dalam hati:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ ِعَا شُورَاء لِلهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma ghadin ‘an adâ’i sunnatil âsyûrâ lillâhi ta’âlâ.
Artinya: “Aku berniat puasa sunah Asyura esok hari karena Allah SWT.

2. Menahan Diri dari Hal yang Membatalkan Puasa

Mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Seperti puasa lainnya, kita menahan diri dari:

  • Makan dan minum
  • Hubungan suami istri
  • Perkataan yang buruk
  • Perbuatan yang sia-sia

3. Memperbanyak Amal Saleh

  • Membaca Al-Qur’an
  • Berdzikir
  • Bersedekah
  • Membantu sesama
  • Memperbanyak doa

4. Berbuka Puasa

Saat waktu Maghrib tiba, dianjurkan untuk segera berbuka. Rasulullah ﷺ biasa berbuka dengan kurma dan air putih. Selain menjadi sunnah, berbuka dengan sederhana juga mengingatkan kita untuk selalu bersyukur atas nikmat Allah SWT.

Lebih Utama Jika Ditambah Puasa Tasu’a

Puasa Tasu'a

Adapun puasa Tasu’a yang dilakukan satu hari sebelum puasa Asyura di tanggal 9 Muharram, memiliki niat sebagai berikut:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ التَا سُوعَاء لِلهِ تَعَالَى

“Nawaitu shauma hadzal yaumi an ada i sunnatit Tasu lillahi ta ala.”
Artinya: “Saya niat puasa sunnah Tasu’a karena Allah SWT.”

Rasulullah juga menganjurkan agar umat Islam tidak hanya berpuasa pada tanggal 10 Muharram. Beliau berencana berpuasa pada tanggal 9 Muharram sebagai pembeda dari kebiasaan kaum Yahudi. Karena itu, yang paling utama adalah:

Tingkatan Pertama (Paling Utama)

  • 9 Muharram (Puasa Tasu’a)
  • 10 Muharram (Puasa Asyura)

Tingkatan Kedua

  • 10 Muharram saja

Sebagian ulama juga menganjurkan menambah puasa tanggal 11 Muharram. Sehingga menjadi:

  • 9 Muharram
  • 10 Muharram
  • 11 Muharram

Kini kita mengetahui bahwa Puasa Asyura bukan sekadar puasa sunnah biasa. Di baliknya terdapat sejarah yang luar biasa, kisah perjuangan Nabi Musa AS, serta keutamaan besar yang dijanjikan oleh Rasulullah.

Untuk Sobat YKB yang ingin mendapatkan lebih banyak artikel edukasi Islami dan inspirasi kebaikan lainnya, kunjungi website kami ykb.or.id dan ikuti media sosial YKB di InstagramFacebook, dan YouTube.

Mengapa Muharram Disebut Bulan Allah? Ini Penjelasannya

Mengapa Muharram Disebut Bulan Allah? Ini Penjelasannya

Saat mendengar nama Muharram, sebagian besar umat Islam mungkin langsung teringat dengan Tahun Baru Islam atau puasa Asyura. Namun, tahukah Sobat YKB bahwa Muharram memiliki sebuah keistimewaan yang tidak dimiliki oleh bulan lainnya?

Saat mendengar nama Muharram, sebagian besar umat Islam mungkin langsung teringat dengan Tahun Baru Islam atau puasa Asyura. Namun Pernahkah Sobat YKB bertanya atau mungkin belum tahu kalau ada satu bulan dalam kalender Hijriah yang disebut sebagai “Bulan Allah”?

Di balik penyebutan tersebut ternyata tersimpan makna yang sangat dalam. Bahkan banyak umat Islam yang belum mengetahui bahwa Muharram bukan sekadar awal tahun baru Islam, melainkan salah satu bulan yang memiliki kedudukan sangat istimewa di sisi Allah SWT.

Sebuah Kisah di Balik Nama “Bulan Allah”

Ketika para sahabat mendengar Rasulullah berbicara tentang bulan Muharram, beliau bersabda: “Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu Muharram. (HR. Muslim)

Menariknya, Rasulullah tidak hanya menyebut bulan Muharram, tetapi menyebutnya dengan istilah “Syahrullah Al-Muharram” atau Bulan Allah, yaitu Muharram.

Para ulama menjelaskan bahwa penyandaran sesuatu kepada Allah menunjukkan kemuliaan dan keistimewaan yang besar. Sebagaimana Ka’bah disebut sebagai Baitullah (Rumah Allah), atau unta Nabi Shalih disebut Naqatullah atau Unta Allah, maka penyebutan Muharram sebagai Bulan Allah merupakan bentuk pemuliaan yang menunjukkan kedudukannya yang istimewa.

Karena itulah banyak ulama mengatakan bahwa Muharram adalah salah satu bulan yang sangat layak untuk diisi dengan amal saleh dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Muharram Sudah Dimuliakan Jauh Sebelum Islam Datang

Hal yang mungkin belum banyak diketahui adalah bahwa kemuliaan Muharram ternyata sudah ada jauh sebelum masa Rasulullah. Dalam tradisi para nabi terdahulu, terdapat empat bulan yang dihormati dan dimuliakan. Allah SWT kemudian menegaskan hal tersebut dalam Al-Qur’an:

إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوۡمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ مِنۡهَآ أَرۡبَعَةٌ حُرُمٌۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلۡقَيِّمُۚ فَلَا تَظۡلِمُواْ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمۡۚ

“Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan… di antaranya ada empat bulan haram.” (QS. At-Taubah: 36)

Empat bulan tersebut adalah: Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, Rajab. Pada masa lampau, peperangan bahkan dihentikan ketika memasuki bulan-bulan haram sebagai bentuk penghormatan terhadap waktu yang dimuliakan Allah. Hal ini menunjukkan bahwa Muharram bukan bulan biasa. Ia memiliki sejarah panjang sebagai bulan yang dihormati sejak zaman para nabi.

Mengapa Muharram Menjadi Awal Tahun Islam?

Banyak orang mengira kalender Islam dimulai dari kelahiran Rasulullah atau turunnya wahyu pertama. Namun ternyata tidak. Pada masa Khalifah Umar bin Khattab, para sahabat bermusyawarah untuk menentukan titik awal kalender Islam. Setelah berdiskusi, mereka sepakat menjadikan peristiwa hijrah Rasulullah dari Makkah ke Madinah sebagai awal perhitungan tahun Hijriah.

Mengapa hijrah?

Karena hijrah bukan sekadar perpindahan tempat. Hijrah merupakan titik awal perubahan besar dalam sejarah Islam. Dari peristiwa hijrah lahir masyarakat Islam yang kuat, bersatu, dan mampu membawa rahmat bagi banyak orang. Karena itu tahun Hijriah mengajarkan bahwa perubahan menuju kebaikan selalu membutuhkan keberanian, pengorbanan, dan kesabaran.

Apa yang Membuat Muharram Begitu Istimewa?

1. Bulan Pembuka Tahun Hijriah

Muharram menjadi awal lembaran baru bagi umat Islam. Jika banyak orang membuat resolusi di awal tahun Masehi, maka Muharram menjadi momentum yang tepat untuk memperbaiki hubungan dengan Allah SWT.

2. Puasa Sunnah Terbaik Setelah Ramadhan

Rasulullah memberikan keistimewaan khusus kepada puasa di bulan Muharram. Bahkan beliau menyebutnya sebagai puasa sunnah terbaik setelah puasa Ramadhan. Ini menunjukkan betapa besar peluang pahala yang Allah sediakan pada bulan ini.

3. Bulan untuk Memperbanyak Amal Saleh

Para ulama menjelaskan bahwa amal kebaikan yang dilakukan pada bulan-bulan haram memiliki keutamaan tersendiri. Karena itu Muharram menjadi waktu yang sangat baik untuk:

  • Bersedekah
  • Membaca Al-Qur’an
  • Memperbanyak dzikir
  • Menjaga silaturahmi
  • Membantu sesama
  • Menyantuni anak yatim

Mari jadikan Muharram sebagai momentum untuk memperbanyak ibadah, memperbaiki diri, dan menebarkan manfaat kepada sesama. Semoga tahun Hijriah yang baru membawa keberkahan, ketenangan, dan semangat baru dalam menjalani kehidupan.

Untuk Sobat YKB yang ingin mendapatkan lebih banyak artikel edukasi Islami dan inspirasi kebaikan lainnya, kunjungi website kami ykb.or.id dan ikuti media sosial YKB di InstagramFacebook, dan YouTube.

Home

Laporan

Donasi

Blog

Chat