Sejarah Shalat Tarawih: Dari Zaman Rasulullah hingga Masa Khalifah Umar

Sejarah Shalat Tarawih: Dari Zaman Rasulullah hingga Masa Khalifah Umar

Sobat YKB, setiap kali Ramadhan datang, ada suasana yang selalu kita rindukan. Langit terasa lebih tenang, masjid lebih ramai, dan hati seperti diajak pulang untuk lebih dekat kepada Allah. Di antara momen yang paling khas adalah ketika gema ayat suci Al-Qur’an terdengar selepas Isya, lalu saf-saf jamaah berdiri rapat untuk melaksanakan shalat Tarawih.

Mungkin selama ini kita menjalankannya sebagai rutinitas tahunan. Datang ke masjid, shalat 8 atau 20 rakaat, lalu witir. Tapi pernah nggak sih kita bertanya, bagaimana sebenarnya awal mula shalat Tarawih ini? Apakah sejak awal sudah seperti sekarang? Siapa yang pertama kali mengumpulkan umat dalam satu jamaah besar?

Yuk Sobat YKB, kita telusuri bersama sejarah shalat Tarawih dari masa Rasulullah ﷺ hingga masa Khalifah Umar bin Khattab. InsyaAllah, setelah tahu kisahnya, Tarawih kita akan terasa lebih bermakna.

Tarawih di Masa Muhammad

Di zaman Rasulullah, istilah “Tarawih” belum dikenal seperti sekarang. Yang ada adalah qiyam Ramadhan, yaitu menghidupkan malam-malam Ramadhan dengan shalat.

Rasulullah sangat menganjurkan umatnya untuk memperbanyak ibadah di bulan ini. Dalam sebuah hadis, beliau bersabda bahwa siapa yang menghidupkan malam Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.

Pernah Dilakukan Berjamaah

Dalam riwayat Aisyah r.a., diceritakan bahwa suatu malam Rasulullah keluar ke masjid dan melaksanakan shalat malam. Beberapa sahabat melihatnya lalu ikut bermakmum di belakang beliau.

Malam berikutnya, jumlah jamaah bertambah banyak. Kabar cepat menyebar bahwa Rasulullah ﷺ shalat malam berjamaah. Pada malam ketiga, masjid semakin penuh oleh para sahabat yang ingin ikut serta.

Namun pada malam selanjutnya, Rasulullah tidak keluar untuk mengimami mereka.

Para sahabat menunggu… tapi beliau tetap tidak keluar.

Keesokan paginya, Rasulullah menjelaskan bahwa beliau tidak keluar bukan karena tidak ingin, melainkan karena khawatir shalat tersebut akan diwajibkan kepada umatnya jika terus dilakukan berjamaah.

Sobat YKB, di sini terlihat betapa besar kasih sayang Rasulullah kepada umatnya. Beliau tidak ingin memberatkan kita.

Setelah peristiwa itu, para sahabat tetap menghidupkan malam Ramadhan, tetapi:

  • Ada yang shalat sendiri
  • Ada yang dalam kelompok kecil
  • Belum disatukan dalam satu jamaah besar

Tarawih di Masa Abu Bakar Ash-Shiddiq

Ketika Nabi Muhammad wafat, kepemimpinan dilanjutkan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a.

Pada masa ini, praktik shalat malam Ramadhan masih sama seperti di akhir masa Rasulullah ﷺ. Kaum Muslimin melaksanakannya secara terpisah-pisah. Belum ada kebijakan untuk menyatukan dalam satu imam besar.

Masa kepemimpinan Abu Bakar r.a. relatif singkat dan diwarnai dengan berbagai tantangan besar, termasuk menjaga stabilitas umat Islam. Karena itu, sistem pelaksanaan Tarawih tetap seperti sebelumnya.

Perubahan Besar di Masa Umar bin Khattab

Nah Sobat YKB, perubahan penting terjadi di masa Khalifah Umar bin Khattab r.a.

Suatu malam di bulan Ramadhan, Umar r.a. masuk ke masjid dan melihat pemandangan yang beragam:

  • Ada yang shalat sendiri.
  • Ada yang shalat berkelompok kecil.
  • Ada yang mengikuti satu imam, ada yang tidak.

Masjid terlihat tidak teratur karena masing-masing berdiri dengan imam berbeda.

Melihat hal itu, Umar r.a. berpikir bahwa akan lebih baik jika umat Islam disatukan dalam satu jamaah dengan satu imam agar lebih tertib dan kompak.

Beliau kemudian menunjuk sahabat yang ahli dalam Al-Qur’an, yaitu Ubay bin Ka’ab r.a., untuk menjadi imam Tarawih.

Setelah kaum Muslimin shalat di belakang satu imam, suasana menjadi lebih teratur dan penuh kekhusyukan. Melihat hal tersebut, Umar r.a. berkata:

“Sebaik-baik bid’ah adalah ini.”

Sobat YKB, yang dimaksud “bid’ah” di sini bukan membuat ibadah baru. Karena Rasulullah pernah melakukannya. Tetapi ini adalah bentuk pengaturan kembali sesuatu yang sudah ada, demi kemaslahatan dan persatuan umat.

Sejak saat itulah, shalat Tarawih berjamaah dengan satu imam menjadi tradisi yang terus berlangsung hingga sekarang di berbagai belahan dunia.

Jumlah Rakaat Tarawih: 8 atau 20?

Pertanyaan yang sering muncul setiap Ramadhan: sebenarnya berapa rakaat Tarawih yang benar?

Dalam riwayat Aisyah r.a., disebutkan bahwa Rasulullah tidak pernah menambah lebih dari 11 rakaat (termasuk witir), baik di bulan Ramadhan maupun di luar Ramadhan.

Sementara di masa Umar r.a., banyak riwayat yang menyebutkan Tarawih dilaksanakan sebanyak 20 rakaat.

Perbedaan ini sudah ada sejak zaman sahabat dan menjadi bagian dari kekayaan fiqih Islam. Jadi Sobat YKB, tidak perlu saling menyalahkan. Baik 8 maupun 20 rakaat, selama dilakukan dengan khusyuk dan sesuai tuntunan, insyaAllah bernilai pahala.

Yang terpenting bukan hanya jumlahnya, tapi keikhlasan dan kekhusyukannya.

Kini, setiap kali kita berdiri dalam saf Tarawih, sebenarnya kita sedang melanjutkan jejak ibadah yang sudah dimulai sejak zaman Rasulullah  dan ditata dengan penuh kebijaksanaan oleh para sahabat.

Semoga Ramadhan kali ini, Tarawih kita bukan hanya rutinitas, tapi menjadi momen memperbaiki diri, memperkuat iman, dan semakin mendekat kepada Allah.

Home

Laporan

Donasi

Blog

Chat