Setiap Idul Adha, pemandangan yang hampir selalu sama terlihat di banyak tempat. Sapi jantan, kambing jantan, domba jantan berjejer menunggu waktu penyembelihan. Seolah sudah menjadi aturan umum bahwa hewan qurban itu harus jantan, bolehkah qurban hewan betina?. Banyak orang menjalankannya tanpa pernah benar-benar bertanya, dari mana kebiasaan ini berasal dan apakah memang ada larangan menggunakan hewan betina.
Pertanyaan sederhana ini ternyata membawa kita pada pembahasan yang menarik. Ada sejarah panjang ibadah qurban, ada contoh dari Rasulullah, ada pertimbangan fikih, ada hikmah sosial, dan ada alasan yang sangat masuk akal di balik kebiasaan umat Islam memilih hewan jantan.
Awal Mula Ibadah Qurban dalam Sejarah Islam

Ibadah qurban tidak lahir sebagai tradisi biasa. Ia berakar dari peristiwa agung yang Allah abadikan dalam Al-Qur’an, ketika Nabi Ibrahim diuji untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail. Ujian ini bukan tentang menyembelih, tetapi tentang ketaatan total. Ketika Nabi Ibrahim telah menunjukkan kepatuhan tanpa syarat, Allah menggantikan Nabi Ismail dengan seekor hewan sembelihan (QS. Ash-Shaffat: 102–107). Dari peristiwa ini, qurban menjadi simbol beberapa nilai penting:
- Kepatuhan kepada perintah Allah
- Keikhlasan dalam beribadah
- Kesediaan berkorban
- Kepedulian sosial melalui pembagian daging
Bagaimana Praktik Qurban yang Dicontohkan Rasulullah
Dalam banyak riwayat hadis sahih, Rasulullah ﷺ berqurban dengan dua ekor kambing kibas yang besar, gemuk, dan bertanduk (HR. Bukhari dan Muslim). Kambing kibas yang dimaksud dalam riwayat tersebut adalah kambing jantan.
Riwayat-riwayat lain juga menunjukkan hal serupa. Hewan yang dipilih Rasulullah untuk qurban adalah hewan jantan yang sehat, besar, dan bagus fisiknya. Dari sinilah para ulama memahami bahwa memilih hewan jantan adalah bagian dari mengikuti sunnah. Umat Islam sejak masa sahabat kemudian meneladani praktik ini. Bukan karena diwajibkan, tetapi karena ingin mengikuti contoh Rasulullah sedekat mungkin.
Baca juga : Asal usul atau sejarah qurban
Apakah Hewan Betina Tidak Sah untuk Qurban
Di sinilah sering terjadi kesalahpahaman. Banyak orang mengira hewan betina tidak boleh dijadikan qurban. Padahal dalam kajian fikih, tidak ada satu pun dalil yang melarang hewan betina. Selama hewan tersebut:
- Cukup umur
- Sehat
- Tidak cacat
- Layak secara syariat
Maka qurban dengan hewan betina tetap sah. Artinya, jika seseorang berqurban dengan sapi betina atau kambing betina, ibadahnya diterima dan tidak ada pelanggaran syariat.
Lalu Mengapa Umat Islam Lebih Memilih Hewan Jantan
Jika betina boleh, kenapa mayoritas umat Islam tetap memilih yang jantan. Ternyata ada beberapa hikmah yang sangat kuat di baliknya.
1. Meneladani sunnah Rasulullah
Karena Nabi mencontohkan hewan jantan, umat Islam merasa lebih tenang ketika mengikuti pilihan tersebut.
2. Manfaat daging yang lebih banyak
Hewan jantan umumnya memiliki ukuran tubuh lebih besar dan massa otot lebih banyak. Daging yang dihasilkan lebih banyak sehingga manfaat yang dibagikan kepada masyarakat menjadi lebih luas.
3. Menjaga populasi ternak
Dalam dunia peternakan, betina adalah indukan. Jika terlalu banyak betina disembelih, populasi ternak bisa menurun karena berkurangnya kemampuan berkembang biak. Memili
h jantan berarti menjaga keberlanjutan peternakan.
4. Nilai pengorbanan yang terasa lebih besar
Dalam praktik peternakan, hewan jantan sering memiliki nilai jual tinggi karena ukurannya dan kualitas dagingnya. Mengorbankan yang bernilai tinggi mencerminkan makna qurban yang sesungguhnya, yaitu memberikan yang terbaik.
Tujuan Qurban yang Sebenarnya
Allah menegaskan dalam QS. Al-Hajj: 37 bahwa daging dan darah hewan qurban tidak akan sampai kepada-Nya. Yang sampai adalah ketakwaan. Ayat ini menegaskan bahwa inti qurban adalah:
- Niat yang tulus
- Kepatuhan
- Kepedulian sosial
- Memberi manfaat kepada sesama
Namun, ketika kita memiliki pilihan antara yang biasa dan yang lebih utama, maka memilih yang lebih utama menjadi bagian dari kesempurnaan ibadah. Bagi sebagian orang, daging adalah makanan biasa. Tetapi bagi sebagian masyarakat di pelosok, daging qurban adalah satu-satunya kesempatan dalam setahun untuk menikmati makanan bergizi. Di sinilah qurban menjadi sangat bermakna. Ia menghadirkan kebahagiaan, gizi, dan rasa diperhatikan bagi mereka yang jarang tersentuh bantuan. Semakin besar dan semakin baik hewan qurban, semakin besar pula manfaat yang bisa dibagikan.
Baca juga : Apakah harus qurban setiap tahun
Jadikan Qurban Lebih Bermakna
Sekarang kita paham bahwa kebiasaan memilih hewan jantan bukan sekadar tradisi. Ada sunnah di dalamnya, ada hikmah sosial, ada manfaat ekonomi, dan ada nilai keteladanan dari Rasulullah. Namun yang terpenting, qurban adalah tentang bagaimana ibadah kita bisa benar-benar dirasakan manfaatnya oleh orang lain. Tahun ini, mari jadikan qurban kita bukan hanya rutinitas tahunan, tetapi ibadah yang menghadirkan kebahagiaan hingga ke pelosok.
Salurkan qurban terbaik kamu di Yayasan Komitmen Bersama, hewan qurban yang di titipkan sampai kepada mereka yang benar-benar membutuhkan, di tempat-tempat yang jarang tersentuh. Karena qurban terbaik bukan hanya yang disembelih, tetapi yang paling luas memberi manfaat.




