Puasa Syawal: Dalil, Manfaat, & Cara Mengamalkannya yang Benar

Puasa Syawal: Dalil, Manfaat, & Cara Mengamalkannya yang Benar

Suasana setelah Ramadan sering bikin hati campur aduk. Di satu sisi bahagia karena bisa merayakan Idul Fitri, kumpul keluarga, makan enak, silaturahmi ke mana-mana. Tapi di sisi lain… ada rasa kehilangan. Biasanya selama sebulan penuh kita rajin ibadah, bangun lebih awal, lebih banyak baca Al-Qur’an, lebih sering menahan diri.

Lalu muncul pertanyaan kecil di hati: setelah Ramadan, apa lagi ya amalan yang bisa bikin semangat ibadah tetap hidup?

Nah, di sinilah Puasa Syawal hadir sebagai salah satu amalan sunnah yang sangat dianjurkan. Bukan sekadar puasa biasa, tapi punya keutamaan yang luar biasa besar.

Apa Itu Puasa Syawal?

Puasa Syawal adalah puasa sunnah yang dikerjakan selama enam hari di bulan Syawal, yaitu bulan setelah Ramadan. Puasa ini dilakukan sebagai bentuk penyempurna ibadah Ramadan sekaligus lanjutan amal kebaikan setelah sebulan penuh berpuasa wajib.

Disebut “puasa Syawal” karena waktunya khusus di bulan Syawal dan jumlahnya telah ditentukan, yaitu enam hari. Puasa ini hukumnya sunnah, artinya tidak wajib, tetapi sangat dianjurkan karena memiliki keutamaan pahala yang besar.

Puasa Syawal

Rasulullah bersabda:

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadan kemudian diikuti dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa sepanjang tahun.”
(HR. Imam Muslim)

Hadits ini menunjukkan betapa besarnya pahalanya. Ulama menjelaskan bahwa:

  • 1 kebaikan dilipatgandakan menjadi 10
  • 30 hari Ramadhan × 10 = 300 hari
  • 6 hari Syawal × 10 = 60 hari
  • Total = 360 hari (seperti setahun penuh)

MasyaAllah, hanya dengan 6 hari puasa, pahalanya seperti puasa setahun.

Tujuan Puasa Syawal

Puasa sunnah ini bukan sekadar menahan lapar dan haus. Ada tujuan besar di baliknya:

  1. Menjaga konsistensi ibadah setelah Ramadhan
  2. Melatih keistiqamahan dalam amalan sunnah
  3. Menyempurnakan kekurangan puasa Ramadan
  4. Bukti cinta kepada sunnah Rasulullah
  5. Melatih kembali pengendalian diri setelah hari raya

Puasa ini seperti “pemanasan lanjutan” agar semangat ibadah Ramadan tidak hilang begitu saja.

Berapa Kali Puasa dan Sampai Kapan Dilaksanakan?

Puasa sunnah ini dikerjakan selama 6 hari di bulan Syawal, yaitu bulan setelah Ramadan. Amalan ini sangat dianjurkan karena memiliki keutamaan pahala yang sangat besar, bahkan disebut setara dengan pahala puasa selama satu tahun penuh.

Pelaksanaan puasa sunnah Syawal bisa dimulai sejak tanggal 2 Syawal. Hal ini karena pada tanggal 1 Syawal umat Islam merayakan Idul Fitri, dan pada hari itu diharamkan untuk berpuasa.

Sobat YKB memiliki waktu sepanjang bulan Syawal untuk menunaikan puasa sunnah ini, artinya batas akhirnya adalah sebelum bulan Syawal berakhir.

Apakah Harus Berturut-turut?

Puasa  sunnah Syawal tidak harus dilakukan secara berurutan. Ada kelonggaran yang memudahkan umat Islam dalam mengamalkannya:

  • Boleh dikerjakan 6 hari langsung berturut-turut setelah Idul Fitri (misalnya 2–7 Syawal)
  • Boleh juga dipisah-pisah di hari lain selama masih di bulan Syawal
  • Banyak yang memilih menggabungkannya dengan puasa Senin–Kamis agar lebih ringan dijalani

Yang paling penting bukan urutannya, tetapi jumlahnya tetap genap 6 hari dan dilaksanakan di bulan Syawal.

Kenapa Harus 6 Hari?

Rasulullah menjelaskan bahwa orang yang berpuasa Ramadan lalu melanjutkannya dengan 6 hari di bulan Syawal, maka pahalanya seperti berpuasa setahun penuh. Inilah sebabnya jumlahnya ditetapkan enam hari, bukan kurang dan bukan lebih.

Ringkasnya :

  • Jumlah puasa Syawal: 6 hari
  • Waktu mulai: 2 Syawal
  • Batas akhir: akhir bulan Syawal
  • Boleh berurutan atau terpisah
  • Yang penting selesai sebelum Syawal berakhir

Dengan waktu yang cukup panjang ini, puasa Syawal bisa dijalankan dengan santai, tidak terburu-buru, dan tetap penuh semangat ibadah setelah Ramadan.

Baca juga : Macam macam puasa sunnah dan keutamaannya

Mana yang Didahulukan: Qadha Puasa atau Puasa Syawal?

Bagi yang masih punya hutang puasa Ramadan, para ulama menganjurkan:

Dahulukan qadha puasa Ramadhan, baru kemudian Syawal.

Karena puasa Ramadan hukumnya wajib, sedangkan Syawal sunnah.

Namun, jika waktunya sempit dan dikhawatirkan tidak sempat Syawal, sebagian ulama membolehkan mendahulukan Syawal, lalu qadha setelahnya.

Untuk Sobat YKB yang ingin mendapatkan lebih banyak artikel edukasi Islami dan inspirasi kebaikan lainnya, kunjungi website kami dan ikuti media sosial YKB di InstagramFacebook, dan YouTube.

Kenapa Setelah Ramadan Ibadah Kita Menurun? Ini Penyebabnya

Kenapa Setelah Ramadan Ibadah Kita Menurun? Ini Penyebabnya

Sobat YKB, banyak dari kita merasakan perubahan yang cukup terasa setelah Ramadhan berlalu. Saat bulan suci, hati terasa ringan untuk beribadah. Salat tepat waktu, Al-Qur’an sering dibaca, sedekah terasa mudah, dan masjid terasa begitu dekat. Namun ketika Ramadhan selesai, perlahan ibadah menurun setelah ramadan. Al-Qur’an mulai jarang dibuka, ibadah sunnah berkurang, dan semangat yang dulu begitu besar terasa menurun.

Perasaan ini sangat manusiawi dan dialami banyak muslim. Kondisi ini bukan berarti iman hilang, tetapi ada beberapa sebab yang sering tidak kita sadari.


Suasana Ramadan Sangat Mendukung Ibadah

Salah satu alasan terbesar kenapa kita begitu mudah beribadah saat Ramadhan adalah karena suasananya benar-benar berbeda dari bulan lainnya. Ramadan bukan hanya tentang puasa, tetapi tentang atmosfer kebaikan yang terasa di mana-mana. Sejak pagi, siang, hingga malam, kita seperti berada di lingkungan yang terus mengingatkan pada ibadah.

Dari suara tilawah di masjid, jadwal kajian yang semakin ramai, pesan-pesan kebaikan yang memenuhi media sosial, hingga obrolan keluarga yang banyak membahas ibadah, semuanya membentuk suasana yang mendorong hati untuk ikut terlibat. Bahkan tanpa kita sadari, lingkungan sekitar ikut “menarik” kita untuk lebih dekat kepada Allah. Ketika adzan berkumandang, kita merasa terdorong untuk segera salat. Ketika melihat orang lain membaca Al-Qur’an, kita ikut ingin membuka mushaf. Saat mendengar teman bercerita tentang target khatam, kita ikut termotivasi.

Suasana kebersamaan ini memberikan efek yang sangat besar. Kita merasa menjadi bagian dari gelombang kebaikan yang besar. Tanpa disuruh, tanpa dipaksa, hati dengan sendirinya terdorong untuk rajin beribadah.

Namun ibadah menurun setelah ramadan, suasana itu perlahan menghilang. Masjid kembali sepi, tidak ada lagi tarawih, tidak ada lagi momen sahur dan berbuka yang mengingatkan pada ibadah. Lingkungan yang dulu begitu mendukung, kini kembali seperti biasa. Inilah yang sering membuat semangat ibadah kita ikut menurun, bukan karena iman hilang, tetapi karena dorongan suasana yang dulu membantu kita sudah tidak lagi terasa.

Tubuh dan Pikiran Mengalami Kelelahan

Ramadhan meningkatkan aktivitas fisik dan mental. Kita tidur lebih malam karena tarawih, bangun lebih awal untuk sahur, memperbanyak ibadah, dan menjaga emosi sepanjang hari. Semua itu membutuhkan energi besar.

Ketika Ramadhan selesai, tubuh dan pikiran memasuki fase istirahat. Rasa lelah yang tertahan selama sebulan mulai terasa. Akibatnya, semangat ibadah menurun bukan karena malas, tetapi karena energi kita sedang turun.

Contohnya, saat Ramadan setelah tarawih masih kuat membaca Al-Qur’an. Setelah Ramadan, selesai Isya rasanya ingin segera beristirahat.

Standar Ibadah Ramadan Terlalu Tinggi untuk Dipertahankan

Di bulan Ramadan, kita mampu membaca satu juz sehari, salat malam setiap hari, dan bersedekah rutin. Kebiasaan ini sangat baik, tetapi ketika Ramadhan selesai kita sering mencoba mempertahankan semuanya sekaligus.

Karena tidak mampu, akhirnya kita berhenti total. Padahal jika diturunkan porsinya, ibadah tetap bisa berjalan.

Contohnya, saat Ramadhan membaca satu juz sehari. Setelah Ramadan, karena merasa tidak sanggup satu juz, akhirnya tidak membaca sama sekali. Jika diganti menjadi satu halaman sehari, kebiasaan itu sebenarnya masih bisa terjaga.

Rutinitas Dunia Kembali Mendominasiibadah menurun setelah ramadan

Setelah Ramadan, aktivitas pekerjaan, urusan rumah, dan kegiatan sosial kembali padat. Waktu yang dulu terasa longgar kini kembali sibuk. Setelah Subuh yang biasanya digunakan untuk tilawah kini dipakai untuk persiapan kerja. Dan waktu malam yang biasanya tarawih kini digunakan untuk beristirahat.

Fokus kita kembali tersita oleh urusan dunia sehingga waktu ibadah terdesak.

Ibadah Ramadan Lebih Banyak Karena Suasana

Sebagian dari kita rajin di bulan Ramadan karena terbawa suasana. Ketika semua orang beribadah, kita ikut beribadah. Ketika suasana itu hilang, semangat ikut menurun.

Artinya, yang perlu dibangun bukan hanya kebiasaan, tetapi kesadaran bahwa ibadah adalah kebutuhan hati, bukan sekadar mengikuti suasana.

Godaan Kembali Seperti Biasa

ibadah menurun setelah ramadan

Sobat YKB, saat Ramadan kita lebih mudah menjaga diri dari kebiasaan yang kurang bermanfaat. Waktu setelah Subuh diisi tilawah, malam hari diisi tarawih, dan penggunaan ponsel atau hiburan berkurang dengan sendirinya karena fokus kita tertuju pada ibadah.

Namun setelah Ramadan, kebiasaan lama perlahan kembali. Setelah Subuh lebih sering membuka ponsel daripada mushaf. Setelah Isya, waktu diisi dengan istirahat atau hiburan. Tanpa terasa, waktu yang dulu dipakai untuk ibadah kini tergantikan oleh aktivitas lain.

Godaan ini sering bukan dalam bentuk hal yang salah, tetapi hal yang berlebihan dan menyita waktu. Akibatnya, ruang untuk ibadah semakin sempit dan semangat pun ikut menurun.


Contoh Perubahan yang Sering Terjadi

Saat Ramadan, setelah Subuh langsung membaca Al-Qur’an. Setelah Ramadan, setelah Subuh lebih sering membuka ponsel.

Saat Ramadan, malam hari diisi tarawih dan witir. Setelah Ramadhan, malam hari diisi dengan istirahat lebih awal atau hiburan.

Saat Ramadan, sedekah terasa ringan dilakukan setiap hari. Setelah Ramadan, kebiasaan itu terlupakan.

Ini bukan karena niat kita berubah, tetapi karena kebiasaan kita kembali seperti sebelumnya.

Solusi Agar Ibadah Tetap Terjaga

Kunci utamanya bukan mempertahankan semua kebiasaan Ramadan, tetapi mengambil sebagian kecil yang bisa dilakukan terus menerus.

Beberapa contoh yang bisa diterapkan:

  • Membaca satu halaman Al-Qur’an setiap hari
  • Salat witir tiga rakaat sebelum tidur
  • Sedekah rutin setiap pekan
  • Dzikir singkat setelah salat

Ibadah yang kecil tetapi konsisten jauh lebih kuat pengaruhnya bagi hati dibanding ibadah besar yang hanya sesaat.

Baca juga : Sejarah shalat tarawih, dari zaman rasulullah hingga khalifah umar

Ramadhan adalah latihan. Tujuannya bukan membuat kita rajin selama 30 hari, tetapi membentuk kebiasaan baik untuk 11 bulan berikutnya. Jika ibadah menurun setelah ramadan, jangan merasa gagal. Ini adalah fase yang wajar. Yang terpenting adalah mulai kembali, meskipun dari hal yang kecil.

Buka kembali Al-Qur’an, perbaiki salat, hidupkan dzikir, dan jaga kebiasaan baik sedikit demi sedikit. Dengan cara ini, semangat Ramadhan tidak hilang, tetapi berubah menjadi kebiasaan yang terus hidup dalam keseharian.

Untuk Sobat YKB yang ingin mendapatkan lebih banyak artikel edukasi Islami dan inspirasi kebaikan lainnya, kunjungi website kami dan ikuti media sosial YKB di Instagram, Facebook, dan YouTube.

Rakaat Tarawih 11 atau 23? Ini Penjelasan Dalil dan Pendapat Ulama

Rakaat Tarawih 11 atau 23? Ini Penjelasan Dalil dan Pendapat Ulama

Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan keberkahan dan kemuliaan. Pada bulan inilah umat Islam berlomba-lomba meningkatkan ibadah, mulai dari berpuasa, membaca Al-Qur’an, bersedekah, hingga menghidupkan malam dengan shalat tarawih. Sobat YKB tentu merasakan suasana yang berbeda saat Ramadhan tiba. Setelah shalat Isya, masjid dipenuhi oleh jamaah yang ingin melaksanakan shalat tarawih. Namun, di tengah pelaksanaan shalat tarawih, sering muncul pertanyaan di kalangan umat Islam: sebenarnya jumlah rakaat tarawih itu 11 atau 23 rakaat?

Perbedaan ini sering menjadi pembahasan dalam kajian keislaman. Meski demikian, para ulama sepakat bahwa kedua jumlah rakaat tersebut memiliki dasar dari hadits dan praktik para sahabat.

Dalil Keutamaan Shalat Tarawih

Shalat tarawih termasuk dalam ibadah qiyam Ramadhan, yaitu menghidupkan malam bulan Ramadhan dengan berbagai ibadah, khususnya shalat malam.

Rasulullah bersabda:

“Barang siapa melaksanakan qiyam Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menunjukkan betapa besar keutamaan menghidupkan malam Ramadhan dengan shalat dan ibadah lainnya.

perbedaan berapa rakaat sholat tarawih

Pendapat Ulama: Tarawih 11 Rakaat

Sebagian ulama berpendapat bahwa shalat tarawih dilaksanakan 11 rakaat, yang terdiri dari 8 rakaat tarawih dan 3 rakaat witir.

Pendapat ini didasarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah binti Abu Bakar. Beliau berkata:

“Rasulullah tidak pernah menambah shalat malam di bulan Ramadhan dan di luar Ramadhan lebih dari sebelas rakaat.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menjelaskan bahwa Rasulullah biasa melaksanakan shalat malam sebanyak sebelas rakaat, termasuk witir. Oleh karena itu, sebagian ulama memahami bahwa jumlah tersebut juga menjadi dasar pelaksanaan tarawih.

Banyak umat Islam yang mengikuti praktik ini dengan tujuan meneladani langsung ibadah yang dilakukan oleh Rasulullah.

Pendapat Ulama: Tarawih 23 Rakaat

Di sisi lain, banyak ulama juga berpendapat bahwa shalat tarawih dapat dilakukan 23 rakaat, yang terdiri dari 20 rakaat tarawih dan 3 rakaat witir.

Pendapat ini merujuk pada praktik para sahabat pada masa kepemimpinan khalifah Umar bin Khattab. Pada masa beliau, kaum muslimin dikumpulkan untuk melaksanakan shalat tarawih secara berjamaah di masjid dengan jumlah 20 rakaat.

Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa kaum muslimin pada masa tersebut melaksanakan tarawih sebanyak 20 rakaat dan kemudian ditutup dengan shalat witir.

Sejak saat itu, praktik shalat tarawih 23 rakaat menjadi tradisi yang banyak dilakukan di berbagai negara, termasuk di Indonesia.

Mengapa Terjadi Perbedaan?

Perbedaan jumlah rakaat tarawih 11 atau 23 terjadi karena adanya perbedaan pemahaman ulama terhadap dalil dan praktik para sahabat.

Sebagian ulama lebih menekankan pada praktik shalat malam yang dilakukan langsung oleh Rasulullah, yaitu sekitar 11 rakaat. Sementara ulama lain melihat praktik para sahabat yang melaksanakan tarawih sebanyak 20 rakaat sebagai bentuk ijtihad yang dibolehkan dalam ibadah sunnah.

Karena itu, para ulama sepakat bahwa shalat tarawih tidak memiliki jumlah rakaat yang benar-benar dibatasi secara pasti, selama dilakukan dengan niat menghidupkan malam Ramadhan.

Para ulama menekankan bahwa yang paling utama dari shalat tarawih bukanlah semata-mata jumlah rakaatnya, tetapi kekhusyukan, keikhlasan, serta semangat dalam menghidupkan malam Ramadhan. Selama dilakukan dengan niat yang tulus dan mengharap pahala dari Allah SWT, insyaAllah ibadah tersebut akan diterima dan menjadi amal kebaikan yang besar.

Menjadikan Tarawih sebagai Momentum Perbaikan Diri

Sobat YKB, Ramadhan adalah kesempatan terbaik untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas ibadah. Melalui shalat tarawih, kita diajak untuk lebih dekat dengan Al-Qur’an, memperbanyak doa, serta memperkuat keimanan.

Baik melaksanakan tarawih 11 rakaat maupun 23 rakaat, yang terpenting adalah menjaga niat, kekhusyukan, dan semangat dalam beribadah sepanjang bulan Ramadhan.

Semoga Allah SWT menerima setiap amal ibadah kita dan menjadikan Ramadhan sebagai momentum perubahan menuju pribadi yang lebih baik.

Untuk informasi lengkap dan update kegiatan terbaru, kunjungi dan ikuti kami melalui:

Komitmen Bersama Hadirkan Qur’an dan Takjil Tuk 50 Santri TPA Nurul Ikhsan

Komitmen Bersama Hadirkan Qur’an dan Takjil Tuk 50 Santri TPA Nurul Ikhsan

Bulan suci Ramadhan adalah momentum terbaik untuk memperbanyak amal kebaikan, termasuk dalam mendukung pendidikan AlQuran bagi generasi muda. Melalui program 30 Days Kindness, Yayasan Komitmen Bersama kembali menunjukkan komitmennya dalam menebar manfaat dengan menyalurkan Alquran, Juz Amma, dan Iqro kepada para santri.

26 Februari 2026, tim Yayasan Komitmen Bersama melakukan kunjungan dan penyaluran bantuan Alquran ke TPA Nurul Ikhsan yang berlokasi di: Kp. Tegal Odeng RT 001 RW 009, Desa Leuwikaret, Kecamatan Klapanunggal, Bogor

Anak-anak sudah berkumpul di ruang belajar sederhana. Sebagian duduk bersila dengan buku Iqro di tangan, beberapa lainnya melantunkan ayat-ayat pendek dari Juz Amma. Di sudut ruangan, terdengar lantunan AlQuran yang dibaca perlahan namun penuh kesungguhan.

Di tempat inilah, anak-anak setiap hari belajar mengenal huruf-huruf hijaiyah, merangkainya menjadi ayat, lalu perlahan memahami maknanya. Mereka dibimbing dengan sabar oleh Ustad Umar, yang setia mendampingi perjalanan belajar para santri.

Semangat Belajar di Tengah Keterbatasan

Lebih dari 70 santri di TPA dengan keterbatasan fasilitas dan sebagian mushaf sudah mulai usang, semangat mereka tidak pernah surut. Ada yang masih mengeja huruf demi huruf, ada yang mengulang hafalan, dan ada yang mulai lancar membaca ayat-ayat panjang.

Hadirkan Alquran TPA Nurul Ikhsan Klapanunggal

Melihat ketulusan itu, Yayasan Komitmen Bersama melalui program 30 Days Kindness menghadirkan bantuan berupa Alquran baru, buku Iqro, dan Juz Amma untuk TPA Nurul Ikhsan menunjang proses belajar mereka.

Saat mushaf baru dibagikan, wajah-wajah kecil itu tampak berbinar. Bagi sebagian anak, memiliki Al-Qur’an sendiri adalah kebahagiaan yang tak ternilai.

Menunggu Adzan dengan Takjil Penuh Kebersamaan

Sambil menanti waktu berbuka, relawan juga membagikan 50 paket takjil kepada para santri. Anak-anak duduk rapi, menahan lapar dengan penuh kesabaran. Senyum mereka merekah saat menerima makanan berbuka.

Momen sederhana itu terasa begitu hangat. Tidak hanya tentang takjil atau bantuan fisik, tetapi tentang rasa diperhatikan dan disayangi.

yayasan komitmen bersama berbagi takjl

Ramadhan memang bulan yang istimewa. Allah SWT berfirman:

“Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan AlQuran sebagai petunjuk bagi manusia…”
(QS. Al-Baqarah: 185)

Ayat ini menjadi pengingat bahwa Ramadhan dan AlQuran tidak dapat dipisahkan. Mendukung pendidikan AlQuran di bulan suci adalah salah satu bentuk amal yang penuh keberkahan.

30 Days Kindness: Komitmen Menebar Manfaat Setiap Hari

Program ini merupakan bagian dari gerakan 30 Days Kindness, komitmen Yayasan Komitmen Bersama untuk menghadirkan aksi nyata selama 30 hari penuh di bulan Ramadhan.

Setiap hari adalah kesempatan untuk berbagi. Setiap mushaf yang dibaca, setiap huruf yang dilafalkan, dan setiap doa yang dipanjatkan menjadi pahala yang terus mengalir.

Hadirkan Alquran TPA Nurul Ikhsan Klapanunggal

Bantuan yang diberikan mungkin terlihat sederhana. Namun dampaknya bisa panjang—menjadi bekal ilmu bagi anak-anak hingga dewasa nanti.

Mari Hadirkan Lebih Banyak Cahaya AlQuran

Perjalanan ini belum selesai. Masih banyak TPA dan santri yang membutuhkan AlQuran, Iqro, dan dukungan pendidikan.

Mari bersama Yayasan Komitmen Bersama terus menebar kebaikan.

💳 Salurkan Donasi Anda:

Bank Syariah Indonesia (BSI)
No. Rekening: 717 711 5309
a.n. Yayasan Komitmen Bersama

Semoga setiap donasi menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir selama ayat-ayat Al-Qur’an dibaca dan diamalkan.

Karena satu mushaf di tangan seorang anak hari ini, bisa menjadi cahaya bagi masa depan esok hari.

Sejarah Shalat Tarawih: Dari Zaman Rasulullah hingga Masa Khalifah Umar

Sejarah Shalat Tarawih: Dari Zaman Rasulullah hingga Masa Khalifah Umar

Sobat YKB, setiap kali Ramadhan datang, ada suasana yang selalu kita rindukan. Langit terasa lebih tenang, masjid lebih ramai, dan hati seperti diajak pulang untuk lebih dekat kepada Allah. Di antara momen yang paling khas adalah ketika gema ayat suci Al-Qur’an terdengar selepas Isya, lalu saf-saf jamaah berdiri rapat untuk melaksanakan shalat Tarawih.

Mungkin selama ini kita menjalankannya sebagai rutinitas tahunan. Datang ke masjid, shalat 8 atau 20 rakaat, lalu witir. Tapi pernah nggak sih kita bertanya, bagaimana sebenarnya awal mula shalat Tarawih ini? Apakah sejak awal sudah seperti sekarang? Siapa yang pertama kali mengumpulkan umat dalam satu jamaah besar?

Yuk Sobat YKB, kita telusuri bersama sejarah shalat Tarawih dari masa Rasulullah ﷺ hingga masa Khalifah Umar bin Khattab. InsyaAllah, setelah tahu kisahnya, Tarawih kita akan terasa lebih bermakna.

Tarawih di Masa Muhammad

Di zaman Rasulullah, istilah “Tarawih” belum dikenal seperti sekarang. Yang ada adalah qiyam Ramadhan, yaitu menghidupkan malam-malam Ramadhan dengan shalat.

Rasulullah sangat menganjurkan umatnya untuk memperbanyak ibadah di bulan ini. Dalam sebuah hadis, beliau bersabda bahwa siapa yang menghidupkan malam Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.

Pernah Dilakukan Berjamaah

Dalam riwayat Aisyah r.a., diceritakan bahwa suatu malam Rasulullah keluar ke masjid dan melaksanakan shalat malam. Beberapa sahabat melihatnya lalu ikut bermakmum di belakang beliau.

Malam berikutnya, jumlah jamaah bertambah banyak. Kabar cepat menyebar bahwa Rasulullah ﷺ shalat malam berjamaah. Pada malam ketiga, masjid semakin penuh oleh para sahabat yang ingin ikut serta.

Namun pada malam selanjutnya, Rasulullah tidak keluar untuk mengimami mereka.

Para sahabat menunggu… tapi beliau tetap tidak keluar.

Keesokan paginya, Rasulullah menjelaskan bahwa beliau tidak keluar bukan karena tidak ingin, melainkan karena khawatir shalat tersebut akan diwajibkan kepada umatnya jika terus dilakukan berjamaah.

Sobat YKB, di sini terlihat betapa besar kasih sayang Rasulullah kepada umatnya. Beliau tidak ingin memberatkan kita.

Setelah peristiwa itu, para sahabat tetap menghidupkan malam Ramadhan, tetapi:

  • Ada yang shalat sendiri
  • Ada yang dalam kelompok kecil
  • Belum disatukan dalam satu jamaah besar

Tarawih di Masa Abu Bakar Ash-Shiddiq

Ketika Nabi Muhammad wafat, kepemimpinan dilanjutkan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a.

Pada masa ini, praktik shalat malam Ramadhan masih sama seperti di akhir masa Rasulullah ﷺ. Kaum Muslimin melaksanakannya secara terpisah-pisah. Belum ada kebijakan untuk menyatukan dalam satu imam besar.

Masa kepemimpinan Abu Bakar r.a. relatif singkat dan diwarnai dengan berbagai tantangan besar, termasuk menjaga stabilitas umat Islam. Karena itu, sistem pelaksanaan Tarawih tetap seperti sebelumnya.

Perubahan Besar di Masa Umar bin Khattab

Nah Sobat YKB, perubahan penting terjadi di masa Khalifah Umar bin Khattab r.a.

Suatu malam di bulan Ramadhan, Umar r.a. masuk ke masjid dan melihat pemandangan yang beragam:

  • Ada yang shalat sendiri.
  • Ada yang shalat berkelompok kecil.
  • Ada yang mengikuti satu imam, ada yang tidak.

Masjid terlihat tidak teratur karena masing-masing berdiri dengan imam berbeda.

Melihat hal itu, Umar r.a. berpikir bahwa akan lebih baik jika umat Islam disatukan dalam satu jamaah dengan satu imam agar lebih tertib dan kompak.

Beliau kemudian menunjuk sahabat yang ahli dalam Al-Qur’an, yaitu Ubay bin Ka’ab r.a., untuk menjadi imam Tarawih.

Setelah kaum Muslimin shalat di belakang satu imam, suasana menjadi lebih teratur dan penuh kekhusyukan. Melihat hal tersebut, Umar r.a. berkata:

“Sebaik-baik bid’ah adalah ini.”

Sobat YKB, yang dimaksud “bid’ah” di sini bukan membuat ibadah baru. Karena Rasulullah pernah melakukannya. Tetapi ini adalah bentuk pengaturan kembali sesuatu yang sudah ada, demi kemaslahatan dan persatuan umat.

Sejak saat itulah, shalat Tarawih berjamaah dengan satu imam menjadi tradisi yang terus berlangsung hingga sekarang di berbagai belahan dunia.

Jumlah Rakaat Tarawih: 8 atau 20?

Pertanyaan yang sering muncul setiap Ramadhan: sebenarnya berapa rakaat Tarawih yang benar?

Dalam riwayat Aisyah r.a., disebutkan bahwa Rasulullah tidak pernah menambah lebih dari 11 rakaat (termasuk witir), baik di bulan Ramadhan maupun di luar Ramadhan.

Sementara di masa Umar r.a., banyak riwayat yang menyebutkan Tarawih dilaksanakan sebanyak 20 rakaat.

Perbedaan ini sudah ada sejak zaman sahabat dan menjadi bagian dari kekayaan fiqih Islam. Jadi Sobat YKB, tidak perlu saling menyalahkan. Baik 8 maupun 20 rakaat, selama dilakukan dengan khusyuk dan sesuai tuntunan, insyaAllah bernilai pahala.

Yang terpenting bukan hanya jumlahnya, tapi keikhlasan dan kekhusyukannya.

Kini, setiap kali kita berdiri dalam saf Tarawih, sebenarnya kita sedang melanjutkan jejak ibadah yang sudah dimulai sejak zaman Rasulullah  dan ditata dengan penuh kebijaksanaan oleh para sahabat.

Semoga Ramadhan kali ini, Tarawih kita bukan hanya rutinitas, tapi menjadi momen memperbaiki diri, memperkuat iman, dan semakin mendekat kepada Allah.

Atasi Krisis Air Komitmen Bersama Bangun Sumur Bor Ponpes Hidayatus Sundus

Atasi Krisis Air Komitmen Bersama Bangun Sumur Bor Ponpes Hidayatus Sundus

Pendidikan yang layak harus didukung dengan fasilitas dasar yang memadai, terutama akses terhadap air bersih. Namun, hal ini sempat menjadi tantangan besar bagi Pondok Pesantren Hidayatus Sundus yang berlokasi di Kampung Cileuweung, Desa Rangkasbitung Timur, Kabupaten Lebak, Banten.

Berdiri sejak akhir tahun 2019, pesantren ini membina 25 santri, di mana 12 di antaranya adalah santri mukim yang menetap dan menuntut ilmu secara gratis tanpa biaya mondok. Untuk bertahan sehari-hari, mereka memenuhi kebutuhan secara mandiri, mulai dari mencari bahan makanan hingga memasak bersama.

Ponpes Hidayatus Sundus

Mengapa Sumur Bor Sangat Mendesak?

Ketersediaan air bersih menjadi kendala utama dalam keberlangsungan aktivitas pesantren. Sumur lama yang ada hanya berskala kecil dengan debit air yang sangat terbatas. Pada jam-jam sibuk seperti saat mandi, wudu, atau memasak air sering kali tidak mencukupi.

Kondisi ini memaksa para santri harus bergantian memutar otak, bahkan tak jarang terpaksa berbagi pemakaian dengan fasilitas kamar mandi santri putri demi menghemat air. Masalah ini semakin pelik karena penampungan air (toren) berkapasitas 500 liter yang mereka miliki sudah bocor dan tidak dapat digunakan lagi. Tentu saja, keterbatasan ini berdampak langsung pada kebersihan lingkungan, kesehatan santri, dan kelancaran proses belajar mengajar.

Hadirnya Solusi dari Yayasan Komitmen Bersama

Melihat kondisi yang memprihatinkan ini, Yayasan Komitmen Bersama tergerak untuk memberikan solusi nyata. Pembangunan sumur bor air bersih yang layak, berdebit tinggi, dan berkelanjutan menjadi program prioritas agar para santri bisa kembali fokus belajar tanpa harus khawatir kehabisan air untuk wudu maupun kebutuhan harian lainnya.

1. Survei Lokasi dan Geolistrik (20 Januari & 2 Februari 2026)

Langkah pertama yang dilakukan tim adalah memastikan titik sumber air terbaik. Survei lokasi dilakukan pada 20 Januari, disusul dengan pengukuran geolistrik pada 2 Februari untuk memetakan akuifer (lapisan pembawa air) di bawah tanah agar sumur tidak mudah kering saat kemarau.

2. Proses Pengeboran (Mulai 11 Februari 2026)

Setelah titik mata air ditentukan, alat berat diturunkan dan proses pengeboran tanah mulai dilakukan oleh tim teknisi.

Proses Pengeboran Sumur Ponpes Hidayatus Sundus

3. Pemasangan Pipa Casing & Pompa Satelit (12 Februari 2026)

Sehari setelah pengeboran mencapai kedalaman ideal, tim langsung melakukan pemasangan pipa casing. Di hari yang sama, pompa air rendam (satelit) dengan spesifikasi Shimizu 3/4 PK dipasang agar air dapat disedot dengan tenaga yang maksimal namun tetap efisien.

4. Instalasi Menara Air, Pipa, dan Toren (18 – 19 Februari 2026)

Untuk menggantikan toren lama yang bocor, tim membangun menara air besi yang kokoh dan menaikkan toren baru. Setelah menara siap, dilanjutkan dengan tahap plumbing atau instalasi jalur pipa dari pompa satelit menuju toren, lalu disalurkan ke keran-keran di kamar mandi dan area wudu santri.

Pemasangan Pipa Dan Rangka Dudukan Toren

Peresmian Sumur Bor dan Senyum Syukur Para Santri (20 Februari 2026)

Hari peresmian menjadi momen yang sangat mengharukan. Para santri berkumpul dengan penuh antusias menyaksikan secara langsung air bersih yang kini dapat mereka akses dengan lebih mudah. Senyum dan rasa syukur terpancar dari wajah para santri.

Kami segenap tim Yayasan Komitmen Bersama dan keluarga besar Pondok Pesantren Hidayatus Sundus mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh donatur yang telah menyisihkan sebagian hartanya.

Pembuatan Sumur Bor Ponpes Hidayatus Sundus

Apa yang Anda berikan bukan sekadar air, melainkan sebuah denyut kehidupan baru bagi para penuntut ilmu agama. Insyaallah, setiap tetes air yang mengalir dan digunakan oleh para santri untuk bersuci, mengambil wudu, melaksanakan salat, menghafal Al-Qur’an, dan merawat kebersihan diri, akan mengalirkan pahala jariyah yang tak pernah terputus bagi Anda dan keluarga. Semoga Allah SWT membalas segala kebaikan Anda dengan keberkahan rezeki, kesehatan, dan perlindungan di dunia maupun di akhirat. Amin Ya Rabbal Alamin.

Ponpes Hidayatus Sundus hanyalah satu dari sekian banyak pesantren dan pelosok desa yang masih berjuang melawan krisis air bersih. Masih banyak saudara-saudara kita para santri yang harus menempuh jarak berkilo-kilometer atau menggunakan air keruh demi bertahan hidup.

Jangan biarkan aliran kebaikan ini berhenti di sini. Bersama Yayasan Komitmen Bersama kita alirkan lebih banyak lagi kebahagiaan dan kehidupan ke berbagai pelosok negeri melalui program Wakaf Sumur Bor.

Salurkan Donasi/Wakaf Terbaik Anda melalui:

Rekening Donasi:
Bank Syariah Indonesia (BSI)
No. Rekening: 717 711 5309
a.n. Yayasan Komitmen Bersama

Satu tetes air yang Anda wakafkan, adalah ribuan doa yang mengalir dari para penghafal Al-Qur’an. Mari berwakaf sekarang!

Perbedaan Panti Asuhan dan Yayasan Pendamping Anak Yatim: Mana yang Lebih Tepat

Perbedaan Panti Asuhan dan Yayasan Pendamping Anak Yatim: Mana yang Lebih Tepat

Anak yatim dan piatu membutuhkan dukungan bersama agar tetap dapat tumbuh dengan layak, berpendidikan, dan memiliki masa depan yang baik. Di tengah upaya tersebut, masyarakat sering mendengar dua istilah yang dianggap sama, yaitu panti asuhan dan yayasan pendamping anak yatim. Padahal, keduanya memiliki peran, pendekatan, dan cara kerja yang berbeda.

Memahami perbedaan ini penting, terutama bagi masyarakat yang ingin berdonasi atau terlibat langsung dalam kegiatan sosial. Dengan pemahaman yang tepat, bantuan yang diberikan tidak hanya sampai, tetapi juga benar-benar sesuai dengan kebutuhan anak.


Bagaimana Yayasan dan Panti Menjalankan Perannya

Dalam upaya membantu anak yatim, terdapat dua bentuk lembaga sosial yang sering ditemui di masyarakat, yaitu panti asuhan dan yayasan pendamping anak yatim. Keduanya memiliki tujuan yang sama, yaitu memastikan anak yatim mendapatkan kehidupan yang layak dan masa depan yang lebih baik. Namun, pendekatan serta peran yang dijalankan oleh masing-masing lembaga memiliki perbedaan yang cukup mendasar.

Memahami pengertian dan peran keduanya akan membantu masyarakat menentukan bentuk dukungan yang paling sesuai dengan kebutuhan anak.


Pengertian Panti Asuhan

Panti asuhan adalah lembaga sosial yang menyediakan tempat tinggal dan pengasuhan penuh bagi anak-anak yatim, piatu, atau anak yang tidak dapat diasuh oleh keluarganya. Anak-anak tinggal menetap di dalam panti dan menjalani kehidupan sehari-hari bersama anak-anak lainnya di bawah pengawasan pengurus dan pengasuh.

Panti asuhan berperan sebagai rumah pengganti, di mana seluruh kebutuhan dasar anak dipenuhi, mulai dari makanan, pakaian, tempat tinggal, pendidikan, hingga pembinaan karakter dan keagamaan.


Pengertian Yayasan Pendamping Anak Yatim

Yayasan pendamping anak yatim adalah lembaga sosial yang fokus pada pendampingan dan pemberdayaan anak yatim tanpa mengambil alih pengasuhan keluarga. Anak-anak yang didampingi umumnya masih tinggal bersama ibu, wali, atau keluarga terdekat.

Pendekatan yayasan pendamping bertujuan untuk membantu anak tetap tumbuh di lingkungan keluarga dan masyarakatnya, sambil mendapatkan dukungan yang dibutuhkan agar mereka dapat berkembang secara optimal, baik dari sisi pendidikan, mental, maupun kesejahteraan.


Peran Panti Asuhan dalam Pengasuhan Anak

Panti asuhan menjalankan perannya dengan memberikan pengasuhan menyeluruh kepada anak-anak yang tidak lagi memiliki pengasuh keluarga. Di dalam panti, pengurus dan pengasuh berperan layaknya orang tua yang mendampingi anak dalam keseharian mereka.

Peran panti asuhan meliputi:

  • Menyediakan tempat tinggal yang aman dan layak

  • Memenuhi kebutuhan makan, pakaian, dan kesehatan anak

  • Mengatur pendidikan formal dan kegiatan belajar

  • Membina karakter, kedisiplinan, dan nilai keagamaan

  • Mendampingi anak dalam aktivitas harian hingga mereka siap mandiri

Dengan sistem ini, panti asuhan menjadi tempat yang memberikan stabilitas dan rasa aman bagi anak-anak yang membutuhkan pengasuhan penuh.


Peran Yayasan Pendamping Anak Yatim

Yayasan pendamping menjalankan perannya dengan mendampingi, bukan menggantikan peran keluarga. Yayasan hadir sebagai mitra bagi anak dan keluarganya, membantu mereka menghadapi keterbatasan yang ada.

Peran yayasan pendamping antara lain:

  • Melakukan pendataan dan memahami kondisi anak serta keluarga

  • Memberikan dukungan pendidikan, seperti beasiswa dan perlengkapan sekolah

  • Menyalurkan bantuan gizi dan kesehatan

  • Memberikan pendampingan psikososial dan pembinaan karakter

  • Menguatkan peran keluarga agar anak tetap tumbuh di lingkungan yang sehat

Pendampingan dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan, menyesuaikan dengan kebutuhan masing-masing anak.


Perbedaan Panti Asuhan dan Yayasan Pendamping Anak Yatim

Untuk memudahkan pemahaman, berikut tabel perbedaan utama antara panti asuhan dan yayasan pendamping anak yatim:

Perbedaan panti asuhan dan yayasan


Mana yang Lebih Tepat?

Tidak ada lembaga yang lebih baik atau lebih buruk. Yang membedakan adalah kondisi dan kebutuhan anak.

Panti asuhan lebih tepat bagi anak yang benar-benar tidak memiliki pengasuhan keluarga. Sementara yayasan pendamping anak yatim menjadi solusi bagi anak yang masih memiliki keluarga, namun membutuhkan dukungan ekonomi, pendidikan, dan pendampingan mental.

Keduanya memiliki peran penting dan saling melengkapi dalam upaya kesejahteraan anak yatim.

Peran Masyarakat dalam Mendukung Anak Yatim

Anak yatim bukan hanya menjadi tanggung jawab lembaga sosial atau yayasan semata, tetapi merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat. Lingkungan sekitar memiliki peran besar dalam membentuk rasa aman, kepercayaan diri, serta masa depan anak yatim. Dukungan yang hadir secara konsisten membuat anak merasa tidak sendirian dan memiliki harapan untuk terus melangkah.

Peran masyarakat tidak selalu harus diwujudkan dalam bentuk bantuan besar. Kepedulian sederhana yang dilakukan secara berkelanjutan, seperti berbagi rezeki, memberi perhatian, atau ikut mendukung program pendampingan, sering kali memberikan dampak yang jauh lebih berarti. Agar kepedulian ini dapat tersalurkan dengan tepat, dibutuhkan lembaga yang mampu mengelola dan menyalurkannya secara amanah.


Peran Yayasan Komitmen Bersama dalam Menyalurkan Kepedulian

Yayasan komitmen bersama Sebagai wadah kebaikan masyarakat, Yayasan Komitmen Bersama hadir untuk menyalurkan kepedulian tersebut kepada anak yatim dan keluarga prasejahtera melalui berbagai program yang berkelanjutan. Yayasan ini tidak hanya memberikan bantuan sesaat, tetapi juga melakukan pendampingan agar anak-anak dapat tumbuh dengan lebih mandiri dan terarah.

Masyarakat dapat berpartisipasi sesuai kemampuan melalui beragam program yang tersedia. Mulai dari program pendidikan, pemenuhan gizi dan kebutuhan harian, santunan rutin, hingga pendampingan psikososial dan pembinaan akhlak. Setiap program dirancang berdasarkan kebutuhan nyata di lapangan, sehingga bantuan yang diberikan benar-benar tepat sasaran.

Bagi masyarakat yang ingin berdonasi, Yayasan Komitmen Bersama membuka ruang partisipasi yang mudah dan fleksibel. Donasi dapat disalurkan secara rutin maupun satu kali, sesuai dengan program yang dipilih. Dengan berdonasi melalui yayasan, masyarakat tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan anak yatim hari ini, tetapi juga ikut mendukung proses pendampingan jangka panjang yang berkelanjutan.

Yuk ambil bagian dalam mendukung pendampingan anak yatim bersama Yayasan Komitmen Bersama. Donasi dapat disalurkan sesuai kemampuan dan program yang dipilih.

Rekening Donasi:
Bank Syariah Indonesia (BSI)
No. Rekening: 717 711 5309
a.n. Yayasan Komitmen Bersama

Info lengkap program & donasi:
🌐 https://ykb.or.id/

Setiap donasi yang dititipkan akan dikelola secara amanah dan disalurkan untuk mendukung masa depan anak yatim secara berkelanjutan.

Mengapa Hadits Menjadi Sumber Hukum Islam?

Mengapa Hadits Menjadi Sumber Hukum Islam?

Pertanyaan tentang mengapa hadits menjadi sumber hukum Islam sering muncul di tengah umat Islam, khususnya ketika seseorang mulai mendalami ajaran agama secara lebih serius. Sebagian orang bertanya, bukankah Al-Qur’an telah sempurna sebagai pedoman hidup? lalu kenapa umat Islam masih membutuhkan hadits dalam menetapkan hukum dan menjalankan ajaran Islam?

Pertanyaan ini wajar dan bahkan penting, karena pemahaman tentang sumber hukum Islam akan menentukan bagaimana seseorang beragama. Islam bukan hanya agama keyakinan, tetapi juga agama yang mengatur cara hidup manusia secara menyeluruh, mulai dari ibadah, muamalah, akhlak, hingga kepedulian sosial.

Tanpa pemahaman yang benar tentang hadits, seseorang bisa terjebak pada pemahaman yang sempit terhadap Al-Qur’an atau bahkan menolak sunnah Rasulullah ﷺ. Oleh karena itu, memahami kedudukan hadits dalam Islam merupakan bagian penting dari menjaga kemurnian ajaran Islam itu sendiri.


Pengertian Hadits dalam Islam

pengertian hadist

 

Hadits adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad, baik berupa perkataan, perbuatan, ketetapan, maupun sifat beliau. Hadits menjadi catatan hidup Rasulullah yang menjelaskan bagaimana ajaran Islam dipraktikkan secara nyata.

Melalui hadits, umat Islam dapat mengetahui bagaimana Nabi Muhammad menjalankan perintah Allah, menyelesaikan persoalan umat, serta mencontohkan akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari.


Kedudukan Hadits dalam Islam

Hadits memiliki kedudukan yang sangat penting dalam Islam, karena ia menempati posisi kedua setelah Al-Qur’an sebagai sumber hukum. Al-Qur’an adalah wahyu Allah yang menjadi pedoman utama, sedangkan hadits berfungsi sebagai penjelas, perinci, dan penguat hukum-hukum yang terdapat dalam Al-Qur’an.

Tanpa hadits, banyak ajaran Al-Qur’an yang tidak dapat dipahami dan diamalkan secara sempurna.


Dalil Al-Qur’an tentang Keharusan Mengikuti Hadits

Al-Qur’an sendiri menegaskan bahwa umat Islam wajib mengikuti Rasulullah. Hal ini menunjukkan bahwa hadits memiliki landasan yang sangat kuat dalam syariat.

Dalil Al-Qur’an

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.”
(QS. Al-Hasyr: 7)

“Barang siapa menaati Rasul, maka sungguh ia telah menaati Allah.”
(QS. An-Nisa: 80)

Ayat-ayat ini dengan jelas menunjukkan bahwa menaati Rasulullah adalah bagian dari ketaatan kepada Allah, dan hadits merupakan sarana utama untuk mengetahui ajaran Rasul tersebut.


Fungsi Hadits dalam Menjelaskan Al-Qur’an

Salah satu alasan utama mengapa hadits menjadi sumber hukum Islam adalah karena hadits berfungsi menjelaskan Al-Qur’an. Penjelasan ini mencakup beberapa bentuk:

  • 1. Menjelaskan Ayat yang Bersifat Umum

Banyak ayat Al-Qur’an yang disampaikan secara global. Hadits datang untuk menjelaskan detail pelaksanaannya.

Contohnya, Al-Qur’an memerintahkan umat Islam untuk mendirikan shalat, tetapi tidak menjelaskan tata cara shalat secara rinci. Tata cara shalat dijelaskan melalui hadits Nabi

  • 2. Membatasi dan Mengkhususkan Hukum

Hadits juga berfungsi membatasi makna ayat yang masih umum, sehingga hukum dapat diterapkan secara tepat.

  • 3. Menetapkan Hukum yang Tidak Disebutkan Secara Jelas dalam Al-Qur’an

Dalam beberapa hal, hadits menetapkan hukum yang tidak disebutkan secara rinci dalam Al-Qur’an, namun tetap sejalan dengan prinsip-prinsip syariat Islam.


Dalil Hadits tentang Pentingnya Mengikuti Sunnah

Rasulullah sendiri menegaskan pentingnya berpegang pada sunnah beliau.

“Barang siapa berpaling dari sunnahku, maka ia bukan termasuk golonganku.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menunjukkan bahwa mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari keimanan seorang muslim.


Kisah Teladan: Sahabat dalam Mengamalkan Hadits

Para sahabat Nabi adalah generasi terbaik yang paling memahami kedudukan hadits dalam Islam. Mereka tidak hanya mendengar dan menghafal sabda Rasulullah, tetapi menjadikannya sebagai pedoman utama dalam mengambil keputusan hidup.

Salah satu kisah yang masyhur adalah ketika Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu hendak menetapkan suatu kebijakan berdasarkan pendapat pribadinya. Namun, ketika disampaikan kepadanya sebuah hadits Rasulullah yang berkaitan dengan masalah tersebut, Umar langsung menarik pendapatnya dan berkata, “Jika demikian sabda Rasulullah, maka itulah yang kita ikuti.”

Kisah ini menunjukkan kerendahan hati para sahabat dalam menerima kebenaran. Meskipun mereka adalah orang-orang berilmu, berpengalaman, dan dekat dengan Rasulullah, namun mereka tidak pernah menempatkan akal dan pendapat pribadi di atas hadits.

Sikap inilah yang seharusnya menjadi teladan bagi umat Islam saat ini, yaitu mendahulukan hadits Nabi dalam memahami dan mengamalkan ajaran agama.


Hadits dan Kepedulian Sosial dalam Islam

Hadits tidak hanya mengatur hubungan seorang hamba dengan Allah melalui ibadah ritual, tetapi juga membentuk kepekaan sosial dan kepedulian terhadap sesama manusia. Rasulullah diutus bukan hanya sebagai pembawa wahyu, tetapi juga sebagai teladan dalam membangun masyarakat yang penuh kasih sayang.

Banyak hadits Rasulullah yang mendorong umat Islam untuk memperhatikan kondisi anak yatim, fakir miskin, dan orang-orang yang lemah. Rasulullah sendiri tumbuh sebagai anak yatim, sehingga beliau sangat memahami perasaan dan kebutuhan mereka.

“Aku dan orang yang menanggung anak yatim akan berada di surga seperti ini,” sambil Rasulullah ﷺ merapatkan jari telunjuk dan jari tengah.
(HR. Bukhari)

Di masa sekarang, menyantuni anak yatim dan berbagi kebaikan tidak lagi sulit. Melalui Yayasan Komitmen Bersama, Anda dapat menyalurkan kepedulian dengan lebih mudah, amanah, dan tepat sasaran.


Penutup

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa hadits menjadi sumber hukum Islam karena ia merupakan penjelas, penguat, dan penyempurna ajaran Al-Qur’an. Tanpa hadits, umat Islam tidak dapat memahami dan mengamalkan syariat secara utuh.

Memahami mengapa hadits menjadi sumber hukum Islam akan membantu umat Islam menjalani kehidupan beragama dengan lebih benar, seimbang, dan penuh keteladanan. Dengan mengikuti Al-Qur’an dan hadits, seorang muslim tidak hanya memperbaiki hubungannya dengan Allah, tetapi juga dengan sesama manusia.

Mengalirkan Harapan di Ponpes An-Nazi’at Dengan Bantuan Sumur Bor

Mengalirkan Harapan di Ponpes An-Nazi’at Dengan Bantuan Sumur Bor

Air bersih adalah kebutuhan dasar yang sering kali terlupakan hingga benar-benar sulit didapatkan. Inilah yang selama bertahun-tahun dirasakan oleh para santri di Pondok Pesantren An-Nazi’at, sebuah pesantren salafi sederhana yang terletak di Desa Margajaya, Kecamatan Cimarga, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten.

Melalui program sumur bor pesantren, Yayasan Komitmen Bersama berupaya menghadirkan solusi nyata bagi kebutuhan air bersih yang berkelanjutan, tidak hanya untuk santri, tetapi juga masyarakat sekitar.

Kehidupan Santri di Ponpes An-Nazi’at

Ponpes An-Nazi’at berdiri sejak tahun 2018 atas inisiatif H. Habiballah. Pesantren ini saat ini membina 30 santri putra, termasuk dua anak usia sekolah dasar. Rentang usia santri dimulai dari SMP kelas 1 hingga usia 23 tahun.

Seluruh proses pendidikan di pondok ini dijalankan dengan konsep gratis dan seikhlasnya. Untuk kebutuhan operasional sehari-hari, pesantren sangat bergantung pada kemampuan keluarga ustadz pendiri yang bekerja sebagai petani. Di tengah keterbatasan tersebut, para santri tetap menjalani hari-hari dengan penuh semangat belajar dan menghafal Al-Qur’an.


Krisis Air Bersih yang Berkepanjangan

Masalah utama yang dihadapi Ponpes An-Nazi’at adalah keterbatasan sumber air bersih. Selama ini, pondok hanya mengandalkan pemipaan air dari mata air di bukit dengan jarak sekitar 1.600 meter, menggunakan lebih dari 400 pipa sambungan.

Sayangnya, debit air sangat bergantung pada hujan. Jika hujan tidak turun selama satu pekan, air akan berhenti mengalir. Secara kualitas, air pun tidak terlalu jernih. Upaya pengeboran sumur pada tahun 2016 pernah dilakukan, namun gagal karena debit air kecil dan kualitas air yang kurang layak

Kondisi ini tidak hanya berdampak pada santri, tetapi juga masyarakat sekitar. Masih banyak warga Desa Margajaya yang terpaksa menggunakan air sungai untuk mandi dan mencuci, meskipun airnya dalam kondisi kotor.


Proses Pembangunan Sumur Bor Ponpes An-Nazi’at

Melihat kondisi tersebut, Yayasan Komitmen Bersama melakukan survey lokasi  pada 19 oktober sebagai langkah awal pembangunan sumur bor ponpes An-Nazi’at. Setelah melalui kajian teknis dan kebutuhan air.

Proses pengeboran sumur

Proses pengeboran dimulai pada 27 November. pada tahap awal, air yang keluar masih terlihat keruh. Namun bagi para santri, ini adalah tanda harapan baru. Tim di lapangan terus melanjutkan proses hingga kualitas air semakin baik dan layak digunakan untuk kebutuhan MCK serta aktivitas harian santri.


Instalasi Menara dan Toren Air

Sebagai bagian dari sistem distribusi, pada 10 Desember 2025 dilakukan pemasangan menara dan toren air. Proses ini meliputi pengurugan, pemasangan struktur besi, hingga toren yang kini berfungsi sebagai penampung utama air bersih.

Sumur bor ponpes an naziat


Peresmian Sumur Bor

Alhamdulillah, pada 14 Desember 2025, pembangunan sumur bor Ponpes An-Nazi’at resmi dituntaskan dan dilakukan acara peresmian sumur bor, Momen ini menjadi hari yang sangat membahagiakan bagi para santri, pengurus pesantren, serta masyarakat sekitar. Setelah melalui proses panjang mulai dari survey lokasi, pengeboran, pengujian air, hingga pemasangan menara dan toren, akhirnya sumur bor dinyatakan siap digunakan untuk memenuhi kebutuhan air bersih.

Sumur bor ponpes an naziat

Air bersih ini kini digunakan untuk berbagai kebutuhan penting seperti wudhu, mandi, mencuci, memasak, serta kebutuhan MCK harian santri. Tidak lagi ada kekhawatiran kekurangan air saat musim kemarau tiba, sebagaimana yang selama ini sering dialami. Bagi mereka, kehadiran sumur bor ini bukan sekadar fasilitas, tetapi juga jawaban atas doa dan harapan yang telah lama dipanjatkan. Akses air bersih yang layak akan sangat menunjang kebersihan, kesehatan, dan kenyamanan dalam menjalani aktivitas belajar.

Mari Berbagi Kebaikan, Hadirkan Sumur Bor Lainnya

Program sumur bor pesantren ini terwujud berkat dukungan para donatur yang telah berbagi rezeki. Masih banyak pesantren dan daerah pelosok lain yang menghadapi kesulitan serupa dalam mendapatkan air bersih.

Bagi kamu yang ingin ikut berbagi dan mendukung pembangunan sumur bor ponpes, silakan klik link berikut : Campaign Sumur Bor dan bergabung dalam kebaikan bersama Yayasan Komitmen Bersama.

Terima kasih atas setiap doa dan dukungan.
Semoga menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir, sebagaimana air yang kini mengalir untuk para santri. Aamiin…

Air Bersih Mengalir untuk Santri: Pembangunan Sumur Bor di Ponpes Daarut Tawabin Jasinga

Air Bersih Mengalir untuk Santri: Pembangunan Sumur Bor di Ponpes Daarut Tawabin Jasinga

Ketika Sungai Jadi Satu-satunya Pilihan, Kini Berganti dengan Air Bersih dari Sumur Bor

Udara adalah sumber kehidupan. Namun, bagi para santri di Pondok Pesantren Daarut Tawabin , Kampung Kebon Panas RT 4 RW 4, Desa Koleang, Kecamatan Jasinga, Kabupaten Bogor, mendapatkan air bersih bukanlah hal yang mudah. Setiap hari mereka harus berjalan cukup jauh ke sungai untuk mandi, mencuci, bahkan mengambil air untuk wudhu dan memasak.

ponpes darul tawwabin

Para santri terpaksa memanfaatkan aliran sungai untuk mandi dan mengambil air karena tidak adanya sumber air bersih di lingkungan pondok.

Namun, ketika hujan turun deras, sungai berubah menjadi deras dan berbahaya. Sampah dan lumpur terbawa arus, membuat udara menjadi keruh dan tidak layak digunakan. Banyak santri yang mengalami gatal-gatal, bahkan ada yang merasa takut untuk mandi di sungai. Kondisi ini sering membuat para santri merasa cemas, bahkan ada yang berpikir ulang untuk melanjutkan mondok di sana.

Awal Langkah: Menghadirkan Air Bersih untuk Santri

Melihat kondisi tersebut, Yayasan Komitmen Bersama tergerak untuk menghadirkan solusi nyata melalui program bantuan sumur bor untuk ponpes Daarut tawabin. Harapannya, dengan tersedianya sumber air bersih, para santri dapat hidup lebih sehat, beribadah dengan tenang, dan belajar dengan semangat tanpa khawatir akan air yang kotor.

pengukuran geolistrik

Alhamdulillah, pada tanggal 21 September 2025 , proses pengukuran geolistrik dilakukan di Ponpes Darul Tawwabin. Pengukuran ini dilakukan dari pukul 09.00 hingga 11.50 WIB , untuk menentukan titik potensial sumber air bawah tanah. Setelah hasil rekomendasi lokasi sumur diperoleh dalam 1–2 hari kerja, tahap selanjutnya adalah pengeboran sumur .

Proses Pengeboran: Menembus Batu untuk Air Kehidupan

Berkat doa dan dukungan para dermawan, proses pengeboran dimulai pada Rabu, 22 September 2025 . Hingga Kamis pagi, pengeboran telah mencapai kedalaman 45 meter dari target 84 meter .

sumur bor ponpes Darul Tawwabin pengeboran sumur bor ponpes Daarut tawabin

Pada kedalaman 40–60 meter, sempat terhenti karena ditemukannya batuan lempung tufa . Batuan jenis ini cukup keras dan membuat proses pengeboran berjalan lebih lambat. Meski begitu, tim di lapangan tetap bersemangat, karena kehadiran batuan tufa sering kali menjadi pertanda bahwa sumber udara sudah semakin dekat.

Hingga dini hari, pengeboran berhasil menembus kedalaman 60 meter , dan beberapa hari kemudian mencapai 85 meter sesuai rekomendasi geolistrik. Di titik ini, sumber air bersih akhirnya ditemukan menjadi tanda harapan baru bagi para santri di Darul Tawwabin.

Pemasangan dan Uji Kelayakan

Setelah sumber air ditemukan, proses dilanjutkan dengan:

  • Pemasangan pipa full casing , untuk memperkuat dinding sumur agar tidak runtuh karena tekanan tanah.
  • Pemasangan pompa air di kedalaman 50 meter agar air dapat terangkat dengan baik.
  • Uji debit udara dilakukan selama lebih dari satu jam nonstop untuk memastikan aliran udara cukup dan stabil.
  • Pembuatan dak beton sebagai dudukan toren air, karena posisi toren sudah cukup tinggi dari pondok sehingga tidak diperlukan menara air.

Selama proses ini, tim juga terus melakukan penjernihan air agar air yang dihasilkan benar-benar bersih dan layak digunakan untuk kebutuhan harian santri.

Air Bersih Akhirnya Mengalir

Alhamdulillah, pada Minggu, 7 Oktober 2025 , sumur bor ponpes Daarut Tawabin resmi diresmikan . Kini, para santri kini sudah bisa menikmati air jernih langsung dari sumur bor. Tidak ada lagi langkah kaki menuju sungai, tidak ada lagi rasa takut akan air yang kotor, dan tidak ada lagi rasa gatal di kulit akibat mandi di air keruh.

sumur bor ponpes Daarut tawabin

Air bersih kini mengalir di lingkungan pesantren, memberikan semangat baru bagi para santri untuk belajar dan beribadah dengan lebih nyaman.

Penutup: Terima Kasih untuk Para Dermawan

Keberhasilan ini tidak lepas dari dukungan dan doa para dermawan yang telah berpartisipasi dalam program bantuan sumur bor ini. Setiap tetes air yang kini mengalir menjadi saksi amal jariyah yang pahalanya akan terus mengalir. Dengan hadirnya sumber air bersih, Pondok Pesantren Daarut tawabin kini dapat berkembang lebih baik, para santri lebih sehat, dan semakin banyak generasi muda yang siap menimba ilmu agama dengan tenang.

Air bersih adalah kebutuhan dasar setiap manusia, dan dengan berbagi kita bisa memberi kehidupan. Melalui program bantuan sumur bor, kami ingin terus menghadirkan manfaat untuk pondok-pondok lain yang masih kesulitan air bersih.

Untuk membantu menghadirkan sumur bor di pesantren-pesantren lainnya , Anda dapat berdonasi melalui campaign resmi Yayasan Komitmen Bersama dengan klik link berikut: Sedekah Sumur Air Untuk Ponpes

Atau bisa juga langsung chat admin YKB melalui WhatsApp di:
+62 852-8783-0170

Setiap tetes donasimu akan menjadi amal jariyah yang terus mengalir , membantu para santri dan masyarakat mendapatkan akses air bersih yang layak. Bersama kita alirkan manfaat, setetes air untuk sejuta kebaikan.

Home

Laporan

Donasi

Blog

Chat